Manfaatkanlah Waktu dengan Sebaik-baiknya!

H-11

Oleh Nauval Zuhdi Kelas 4 Takhasus

Pembaca rahimakumullah…

Waktu merupakan anugrah Ilahi kepada setiap hamba-Nya. Dengan waktu, berbagai amal saleh dan aktivitas bermanfaat pun bisa dilakukan. Alhamdulillah… Waktu memang luar biasa, namun ternyata para ulama sangat memperhatikan setiap waktu yang bergulir dalam kehidupan mereka. Imam Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub ibnu Sa’ad Syamsuddin bin Qayyim al-Jauziyyah rahimahullahu (wafat. 751 H) di dalam kitab al-Fawaid (1/31) berkata,

“إِضَاعَة الْوَقْت أَشد من الْمَوْت لِأَن إِضَاعَة الْوَقْت تقطعك عَن الله وَالدَّار الْآخِرَة وَالْمَوْت يقطعك عَن الدُّنْيَا وَأَهْلهَا”.

“Menyia-nyiakan waktu lebih dahsyat dari kematian. Sebab, menyia-nyiakan waktu dapat memutus hubunganmu dengan Allah Ta’ala begitupula kehidupan akhirat. Adapun kematian hanyalah memutus hubunganmu dengan dunia seisinya.”

Pembaca rahimakumullah,

Sesungguhnya memanfaatkan waktu, jiwa, dan kesehatan merupakan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Rabb Alam Semesta. Karena waktu adalah modal seorang hamba untuk beramal kebajikan. Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,

يا ابن آدم! إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك”.”

Wahai Anak Adam! Engkau hanyalah hari-hari, setiap kali sehari itu hilang darimu maka hilang pula sebagianmu.”

Oleh karenaya Nabi shlallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ“.

“Ada dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh mayoritas manusia yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang.”[1]

Pembaca rahimakumullah..

Tidaklah nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam menyampaikan sebuah sabda melainkan hal itu  mengenai kepentingan terhadap umatnya. Pada hadits di atas nabi menyampaikan dua nikmat yang sering manusia lalai darinya yaitu nikmat sehat dan waktu luang. Betapa tidak? Sungguh waktu luang itu akan terasa nikmat kala kesibukan datang menghampiri. Begitupula kesehatan, akan terasa nikmatnya jika sakit datang sebagai ujian.

Namun ada hal yang perlu kita perhatikan, wahai sekalian pembaca rahimakumullah..

Sebagaimana yang telah kita ketahui waktu adalah pemberian Allah. Dan pemberian Allah itu adalah amanah, oleh karenanya ada hadits dari nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa seorang manusia tak akan bergeser kakinya nanti di hari kiamat kecuali akan ditanyakan pada dirinya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, begitu pula masa mudanya. Bahkan setiap harta yang ia peroleh pun akan di tanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Apakah halal ataukah haram? Dan untuk apa ia infakkan hartanya. masyaAllah.[2]

Oleh karenanya orang-orang kafir sangat berharap untuk bisa kembali ke dunia kala kematiannya datang menjemput. Allah berkata,

{حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (al-Mukminun: 99-100)

Namun apalah daya, nasi telah menjadi bubur. Allah tak menizinkan mereka kembali kedunia. Begitulah kodrat ketetapan Allah. Maha Suci Allah Rabb Semesta Alam. Akhirnya mereka pun berteriak di dalam neraka, Allah berkata,

{وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا} [فاطر:37]

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu.” (Fathir: 37)

{رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ} [فاطر:37]

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” (Fathir: 37)

Menyesal lah mereka terhadap sekian waktu yang telah disia-siakan percuma. senda gurau, kedustaan, dan permainan belaka. Beruntunglah pribadi muslim yang selalu berada di atas ilmu dalam semua aspek hidupnya.

Pembaca rahimakumullah…

Oleh karena itu marilah kita  gunakan sisa umur ini dengan sebaik-baiknya, semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam Jannah-Nya.

Wallahul Musta’an wa ilaihi Tuklan.

 

[1] diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullahu Ta’ala  dalam Shahihnya 8/88,

[2] Lihat HR. Imam at-Tirmdzi dalam Sunannya 4/190

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.