Memupuk kesabaran di negeri ujian

 

Oleh Ja’var Malang 2A Takhasus

 

Pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Surga adalah sebuah negeri yang sarat akan kenikmatan. Kenikmatannya tak akan pernah terhenti lagi terputus. Surga merupakan tujuan hidup kita. Ia merupakan kebahagiaan dan kesenangan yang hakiki.

Adapun dunia, ia merupakan jalan menuju negeri tersebut. Ia merupakan negeri yang penuh dengan ujian dan cobaan. Gemerlapnya dunia ibarat fatamorgana yang sejatinya hanyalah tipuan belaka. Allah Ta’ala berkata di dalam ayatnya:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. al-Hadid:20)

Ujian adalah sebuah kepastian

Pembaca rahimakumullah.

Seorang manusia dalam perjalanan menuju surga Allah Ta’ala takkan pernah luput dari ujian yang akan menimpanya. Karena sudah menjadi ketetapan Allah Ta’ala bahwa jalan menuju surga penuh dengan lika-liku dan ujian. Sebagaimana dalam sebuah hadist:

حُجِبَتِ الجَنَّةُ بِالْمَكَارِه

“Surga itu diliputi dengan hal-hal yang dibenci.” (HR. Al-Bukhari no. 6487)

Seorang manusia pasti akan diuji, baik ujian itu menimpa jiwanya, hartanya, maupun orang-orang dekatnya. Yang jelas ujian merupakan suatu keharusan, karena hal tersebut merupakan ketetapan Allah Ta’ala. Sebagaimana hal tersebut telah termaktub (tertulis) dalam kalam-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Hikmah di balik ujian

Sudah menjadi hal yang diketahui bersama, bahwa perbuatan Allah Ta’ala seluruhnya tidak keluar dari keutamaan dan keadilannya. Perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala padanya terdapat hikmah serta tujuan yang Allah Ta’ala inginkan untuk kemaslahatan sang hamba, di antaranya:

  1. Ujian sebagai pembeda.

Di antara tujuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan ujian kepada manusia agar terbedakan antara orang yang tulus dalam keimanannya dengan orang yang dusta dalam pengakuannya. Ujian juga diberikan agar terbedakan derajat di antara orang orang yang beriman itu sendiri.

Maka dengan ujian tersebut diketahui siapakah dari mereka yang tinggi kadar keimanannya, kokoh di saat ujian menerpa, dan siapakah orang yang keimanannya hanya sebagai pemanis bibir saja. Ia tidak kuat menahan pedih dan perihnya ujian tersebut, sehingga ia berbalik arah dan meninggalkan jalan istiqamah. Allah Ta’ala berfirman :

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 1-2)

  1. Ujian sebagai teguran dan pelebur dosa.

Manusia adalah makhluk yang banyak cela dan sering lupa. Manusia sering kali melalaikan syariat Allah Ta’ala. Akibatnya banyak sekali perintah Allah Ta’ala yang dilanggar serta terlampau banyak batasan-batasan yang diterjang. Sehingga konsekuensi dari itu semua manusia adalah makhluk yang zalim lagi pendosa.

Kalaulah seandainya seluruh dosa manusia dibalas di akhirat niscaya ia akan binasa. Namun karena rahmat Allah Ta’ala yang Maha Luas, Allah Ta’ala menjadikan adanya teguran dan pengampunan. Maka sejatinya ujian dan cobaan adalah teguran dari Allah Ta’ala untuk umat manusia dan penggugur dosa mereka. Allah Ta’ala berkata :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41)

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. ar-Rum: 41)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam haditsnya :

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

Jika Allah Ta’ala menghendaki kebaikan bagi hambanya, maka Ia akan menyegerakan hukumannya di dunia. Namun jika Allah Ta’ala menghendaki keburukan bagi hambanya, Ia akan menunda azabnya hingga Ia berikan seluruhnya pada hari kiamat.” (HR. At Tirmidzi no. 2396 Hasan shahih)

Dan masih banyak lagi hikmah yang tersimpan di balik sebuah ujian, sebagaimana tertera di dalam al-Qur’an dan Hadist-hadits Nabi shallahu ’alaihi wa sallam.

Kesabaran adalah kunci kesuksesan

Pembaca rahimakumullah.

Bila ujian merupakan sebuah kepastian, maka kesabaran adalah sebaik-baik kendaraaan dalam menjalaninya. Kesabaran merupakan kunci kesuksesan. Bagaimana tidak, Rasulullah shallahu alaihi wa sallam berkata:

 وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

“Dan barangsiapa yang diuji lalu ia bersabar, maka ia telah beruntung.” (HR. Abu Dawud no. 4263, al-Bazzar no. 2112 dan yang lainnya. Shahih)

Kesabaran laksana mentari, walaupun terasa sangat panas namun manfaatnya begitu luar biasa. Seseorang yang bersabar akan mendapatkan ganjaran yang sangat besar lagi tak berbilang. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

 إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

‘’Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.’’ (QS. az-Zumar: 10)

Kesabaran merupakan pemberian terbaik. Tidaklah Allah Ta’ala memberikannya kecuali kepada hamba yang mulia di sisi-Nya. Pasalnya kesabaran tersebut menahan seseorang dari ucapan dan perbuatan yang dimurkai oleh Allah Ta’ala. Sifat sabar tidaklah muncul kecuali dari orang yang tinggi kadar keimanannya kepada Allah Ta’ala dan baiknya prasangka dia kepada-Nya.

Pembaca rahimakumullah.

Hendaknya kita bersabar menghadapi ujian dan cobaan yang menimpa kita. Yakinlah bahwa di sana terdapat suatu kebaikan yang Allah Ta’ala inginkan. Bila ternyata mata kita harus menangis karena tidak kuasa menahan sedih maka menangislah, karena tangisan itu merupakan rahmat bukan suatu kelemahan. Namun alangkah baiknya kita menangis di hadapan Allah Ta’ala, mengakui segala dosa dan kekurangan kita. Harapannya Allah Ta’ala segera mengentaskan ujian tersebut dari kita.

Sejatinya segala ujian yang menimpa kita tak akan keluar dari koridor kemampuan kita. Oleh karenanya kita memohon kepada Allah Ta’ala agar megaruniakan kepada kita kesabaran hingga akhir hayat nanti. Amin.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.