Meneladani Hikmah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Berdakwah

 

Oleh Muhammad Ridha Murtadha Sidoarjo, Takmili

 

Seorang thalibul ilmi hendaknya berhias dengan sikap hikmah, karena Allah Taala berfirman di dalam kitab-Nya,

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ

“Allah menganugerahkan hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah mendapat karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah: 269)

Seorang penuntut ilmu dituntut untuk mendidik orang lain dan berhias dengan hikmah serta akhlak yang baik ketika mengajak orang lain untuk masuk ke dalam agama Allah. Jika kita menempuh jalan ini dalam berdakwah, kita akan mendapatkan banyak kebaikan sebagaimana firman Allah,

 

وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan barang siapa yang dianugrahi hikmah, ia benar-benar telah mendapat karunia yang banyak.(QS. Al-Baqarah: 269)

 

Orang yang penuh hikmah adalah seorang yang bisa menempatkan suatu perkara pada tempatnya, karena kata “الحكيم”, diambil dari “الإحكام” yaitu “الإتقان” yang artinya, rapi atau kokoh. Dan rapinya sesuatu itu ketika ditempatkan sesuai pada tempatnya. Maka sepantasnya, bahkan harus bagi seorang penuntut ilmu untuk berdakwah dengan penuh hikmah. Allah Taala menyebutkan tingkatan metode dalam berdakwah yaitu pada fiman-Nya:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.(QS. An-Nahl: 125)

Allah juga telah menyebutkan tingkatan yang keempat (membantah dengan cara yang baik), ketika menyebutkan cara mendebat ahlul kitab:

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka.” (QS. Al-‘Ankabut: 46)

 

Contoh Nyata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Maka hendaknya penuntut ilmu memilih metode dakwah yang kemungkinan besar akan diterima oleh umatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah banyak mencontohkan bagaimana cara dan metode dakwah di banyak peristiwa.

Salah satunya ketika ada seorang Arab Badui kencing di salah satu sudut masjid, maka para sahabat pun menghardiknya. Akan tetapi Rasulullah melarang mereka sampai si Arab Badui menyelesaikan hajatnya. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menasehatinya denga cara terbaik, sampai akhirnya si Arab Badui berlapang dada dan rida, sampai-sampai ia berkata:

اللَّهمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا

Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorang pun bersama kita.”

 

Ada juga, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seseorang memakai cincin dari emas (padahal hal tersebut haram bagi laki-laki), Nabi pun melepaskan cincin tersebut dari tangan lelaki dan membuangnya, lalu beliau menasihatinya dengan cara yang baik.

Ketika Rasulullah beranjak pergi, ada seseorang yang berkata kepada pemilik cincin tersebut, “Ambillah cincin itu dan manfaatkanlah.” Namun sang pemilik cincin menjawab, “Aku tidak akan mengambil cincin yang dibuang oleh Rasulullah.”

 

Kesimpulan

Metode Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kisah kedua ini lebih keras dari yang pertama. Namun semua itu beliau lakukan sesuai kondisinya. Dan seperti inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap dai, yaitu menempatkan setiap perkara pada tempatnya agar bisa tercapai manfaat yang diinginkan.

 

Hendaknya seorang dai ketika melihat para pelaku maksiat, ia meninjau dari dua sisi:

  • Sisi syariat, yaitu kita menghukumi mereka karena Allah dan jangan sampai terpengaruhi oleh celaan orang-orang.
  • Sisi kemampuan, yaitu kita memperlakukan mereka dengan kasih sayang sehingga dapat memperoleh apa yang dimaksud dan menghilangkan apa yang tidak diinginkan.

 

Akhir Kata

Demikianlah seorang  penuntut ilmu. Berbeda dengan orang-orang jahil yang hanya memiliki semangat tapi tidak memiliki ilmu. Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk berdakwah di jalan Allah dengan cara penuh hikmah.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.