Tolak berita hoax!

Oleh Abul Husain Faruq 4B Takhasus

 

Di tengah perkembangan media sosial yang beraneka ragam pada zaman ini, maka di sana muncul fenomena isu yang mencuat. Fenomena berita bohong yang lebih dikenal pada zaman sekarang dengan berita hoax. Hoax adalah menyebarkan perkataaan, perbuatan maupun berita yang tidak bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya, dan terlebih lagi berita tersebut datangnya dari musuh musuh Allah Ta’ala,  Yahudi dan Nasrani. Begitu pula dari para pengekor hawa nafsu dan ahlul bid`ah.

Pada zaman sekarang ini, dengan mudah seseorang dapat menyebarkan aib saudaranya, teman, tetangga, kerabat, dan sanak famili. Merupakan hal yang sepele apabila satu kubu ingin menjatuhkan kubu yang lain. Tinggal ketik-ketik kemudian disebar ke berbagai media komunikasi modern yang ada, sehingga masyarakat kaum muslimin terkhusus salafiyyin merasa takut, bingung, risau, dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi di tengah-tengah lingkungannya. Bahkan hoax ini bisa sampai mengguncang satu negara.

Mari kita meneliti bimbingan agama Islam terhadap perkara yang satu ini agar kita bisa menjauhinya. Sungguh itu semua telah dijelaskan dan ada bimbingannya di dalam syariat Islam yang jernih, bersih, dan lurus ini. Diantaranya ialah….

Yang pertama: Kita diperintahkan untuk senantiasa menjaga lisan, menjaga setiap perkataan yang keluar dari lisan. Tidak hanya itu, kita pula diperintahkan untuk menjaga tangan dari tulisan-tulisan yang batil, dan menjaga tangan dari menyebarkan berita-berita palsu ditengah umat manusia terkhusus salafiyyin yang membuat resah kehidupan mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan dalam ayat-Nya yang berbunyi,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah kalian mengikuti segala perkara yang kalian tidak memiliki ilmu di dalamnya, karena setiap pendengaran, penglihatan dan hati kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.” [QS. al-Isra’: 36]

Sungguh sangat mengerikan hari kiamat, karena kelak panca indra kita semua akan ditanya oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dan dimintai pertanggungjawabannya. Pada hari itu tak ada seorang manusia pun yang dapat bersembunyi darinya, terlebih lagi lari dari apa yang telah mereka lakukan di muka bumi.

Agama Islam yang jernih ini melarang kita dari menyebarkan berita dusta. Sebaliknya  memerintahkan kita kaum muslimin untuk senantiasa berjalan diatas al-haq dan kebenaran. Dalam surat at-Taubah Allah Subhanhu Wa Ta’ala menegaskan,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” [QS. At Taubah: 119]

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk meluruskan ucapan dan perbuatan, serta memerintahkan kita untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur.

Yang kedua: Bahwa menyebarkan berita yang bersifat prasangka (su’udzhan) merupakan perkara yang telah diancam oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ancaman yang keras. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shalallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kedustaan akan mengarahkan pelakunya kepada perbuatan keji, dan perbuatan keji tersebut akan mengantarkannya kepada api neraka. Sungguh orang yang senantiasa berdusta akan dicatat disisi Allah Ta’ala sebagai pendusta.” (HR. al-Bukhari 6094)

Termasuk di dalam hadits ini ialah orang yang senang menyebarkan berita hoax, maka mukmin yang jujur senantiasa menjauhi sifat ini.

Yang ketiga: Bahwa dusta dan hoax dikategorikan sebagai dosa besar yang paling besar, dan ini bukan sepele perkaranya. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

«أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ» قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: ” الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ ” فَمَا زَالَ يَقُولُهَا، حَتَّى قُلْتُ: لاَ يَسْكُتُ

 “Maukah kalian aku beritakan sebuah dosa dari dosa-dosa terbesar? Para sahabat menjawab, tentu wahai Rasulullah. Kemudian Rasululllah bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua, – Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan syirik dan durhaka dalam keadaan berbaring, kemudian Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba duduk dan berkata- aku peringatkan kalian dari perkataan dusta dan persaksian palsu”. Kata Abi bakrah kemudian Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam selalu mengulanginya sampai kami mengatakan, duhai kiranya beliau tidak berbicara.” [HR. al-Bukhari 5976]

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengategorikan perkataan palsu, bohong, dan dusta termasuk dosa terbesar, bahkan digandengkan dengan kesyirikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan durhaka kepada kedua orang tua.

Yang keempat: Hoax dan orang yang hobi dalam menyebarkan berita hoax merupakan salah satu dari simbol kemunafikan yang ada pada dirinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

” آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “

“Tanda orang munafik itu ada tiga: Apabila berkata maka berdusta, apabila berjanji maka mengingkari, apabila diberi amanah maka mengkhianati amanah tersebut.” [HR. al-Bukhari no. 39]

Dalam hadits ini orang-orang yang suka menyebarkan berita bohong dikhawatirkan padanya ada tanda-tanda kemunafikan. kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari ciri-ciri orang munafik.

Yang kelima: Hoax merupakan suatu amalan yang dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Perbuatan yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala diketegorikan oleh para ulama sebagai perbuatan yang haram.

Dalam sebuah hadits dari Sahabat al-Mughirah bin Syu’bah Nabi shallallahu alaihi wa salam bersabda:

” إِنَّ اللهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ “

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci (mengharamkan) atas kalian tiga perkara: Ikut serta dalam menyebarkan berita burung yang masih katanya dan katanya, boros terhadap harta, dan banyak bertanya.” [HR. Muslim no. 593]

Dalam hadits ini Allah Ta’ala membenci perangai yang bermudah-mudahan dalam menyebarkan berita hoax, berita yang tidak valid datanya dan penuh dengan kedustaan. Dan perkara yang dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla hukumnya adalah haram.

Lantas bagaimana bimbingan syariat Islam dalam menyikapi berita hoax? Sungguh agama Islam adalah agama yang paling jelas, semunya telah Allah Ta’ala jelaskan dalam kitab-Nya maupun di dalam sunnah nabi-Nya. Mari kita mempelajari bimbingan Islam dalam menyikapi berita hoax.

Allah subhanhu wa ta’ala menyebutkan dalam ayatNya,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka tatsabbutlah (periksalah dengan teliti) berita tersebut.” [QS. Al Hujurat: 9]

Bagaimana sikap seorang muslim yang mendapatkan berita hoax dan terlanjur menyebarkannya?, Ini dia solusinya…

Yang pertama: Kalau tidak sengaja maka perkaranya antara dia dengan Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Sebagaimana yang Allah Ta’ala jelaskan dalam ayat-Nya,

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ

“Dan tidak ada dosa dari kesalahan yang tidak kalian sadari, akan tetapi dosa yang dianggap ialah yang kalian lakukan dengan kesengajaan dari hati kalian.” [QS. Al-Ahzab: 5]

Kalau seandainya merugikan pihak lain, maka ia harus bertanggungjawab dengan mengklarifikasi berita tersebut dan menjelaskannya bahwa berita tersebut hoax.

Yang kedua: Kalau dia menyebarkannya di forum, dia harus meralat kembali ucapannya, bertaubat, dan mengklarifikasi kebenaran yang sebenarnya. Sebagaimana yang Allah Ta’ala jelaskan dalam ayat-Nya,

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا  

“Kecuali orang orang yang betaubat dan memperbaiki kesalahan dan menjelaskan kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 160]

Kita teringat juga dengan perkataan seorang ‘alim Sulaiman bin Mihran rahimahullah ta’ala yang di sebutkan oleh al-Imam Ibnu ‘Asakir di dalam kitabnya ‘Tarikh Dimasyq’ hal. 365, juz ke 61.

مَن أَسَاءَ سِرًّا فَليَتُب سِرًّا وَمَن أَسَاءَ عَلَانِيَةً فَليَتُب عَلَانٍيَةً فَإِنَّ النَّاسَ يُعَيِّرونَ وَلَا يَغفِرُونَ وَاللهُ يَغفِرُ وَلَا يُعَيِّرُ

“Barangsiapa yang berbuat salah secara tersembunyi maka ia bertaubat secara tersembunyi, dan barangsiapa yang berbuat kesalahan secara terang-terangan maka ia harus bertaubat secara terang-terangan. Karena umat manusia kalau tidak mengetahui taubatnya, niscaya manusia akan mencelanya dan tidak memaafkannya, akan tetapi Allah Ta’ala Maha Pengampun dan tidak mencela (hamba-hamba-Nya).

Bagi seorang hamba yang sudah terlanjur menyebarkan berita-berita hoax di medsos, maka ia harus menjelaskan kebenarannya. Dan ini pula terjadi pada seorang yang dahulunya sebagai pimpinan sekte sesat, Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullahu ta`ala. Beliau selama empat puluh tahun memimpin sekte Mu’tazilah, kemudian bertaubat dan menyebarkan akidah antara Ahlussunnah dan Mu’tazilah yang dikenal sekarang dengan akidah asy-`Ariyyah. Kemudian beliau tersadar ternyata apa yang beliau yakini selama ini adalah salah, sehingga beliaupun bertaubat dari akidah tersebut dan berkhutbah di hadapan khalayak ramai serta menjelaskan kebenaran yang ada. Tidak hanya itu yang beliau lakukan, lebih dari itu beliau juga menulis sebuah buku yang sangat fenomenal untuk menjelaskan kebatilan dan kesesatan dari akidah yang beliau pegang selama ini, yaitu kitab “Al-Ibanah ‘An Ushulis Sunnah Wad Diyanah” dan “Maqaalat al-Islamiyyin”. Inilah prinsip seorang muslim yang benar. Mari kita seyogyanya sebagai ahlus sunnah untuk meneladani keberanian Beliau rahimahullah, tidak takut akan celaan orang yang mencela, serta mengedepankan al haq.

Mungkin sekian yang bisa kami torehkan dalam secarik kertas ini, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat yang berbuah amal shalih. Aamiin.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.