Menghidupkan 10 hari terakhir

 

Oleh Mush’ab Kendari Tahfidz dan Khalid Bengkulu Takhasus

 

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat, ternyata kita sudah berada pada akhir-akhir bulan Ramadhan. Seakan-akan baru kemarin kita memasuki Ramadhan, esok kita akan meninggalkannya.

Tepatnya pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, terdapat padanya malam lailatul qadr, yang terjadi pada malam ganjil ataupun genap di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebuah malam  yang apabila kita beribadah padanya, maka itu lebih baik dari seribu bulan.

 

Allah Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Lailatul qadr itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Maka manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dengan tilawatul qur’an serta ibada-ibadah yang lainnya, karena belum tentu kita bertemu lagi dengan bulan yang mulia ini setelah tahun ini.

 

Tidak hanya pada malam ganjil lailatul qadr terjadi

Belum tentu malam lailatul qadr itu terjadi pada malam ganjil, bisa saja terjadi pada malam genap. Karena kita tidak mengetahui kapan terjadinya, maka jangan hanya menunggu malam ganjil saja, namun manfaatkanlah sebaik mungkin wahai saudaraku pada seluruh malam di sepuluh hari terakhir sebelum ajal tiba!

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan ini dalam keadaan menghidupakannya dengan ketaatan. Semoga Allah Subahanahu wa Ta’ala menerima shalat, puasa, dan seluruh amalan kita. Amiin ya Mujiibas saailin.

 

Malam yang penuh semangat

Allah Ta’ala berfiman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam qadar itu? (Yaitu) malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Rabbnya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5)

 

Suasana berbeda di malam 27

Malam itu terasa berbeda dari biasanya. Pada malam itu terlihat para santri begitu bersemangat dalam beribadah. Ya, malam itu adalah malam ke-27 Ramadhan. Pada malam sebelumnya biasanya masjid masjid Ali bin Abi Thalib baru akan sangat ramai dengan aktivitas ibadah ketika jam telah menunjukkan pukul 12 malam kurang lebih.

Namun tidak dengan malam itu. Malam itu, selepas shalat tarawih masjid kami tetap ramai dengan kumpulan para pencari lailatul qadar yang penuh semangat membaca al-Quran. Tlawah para santri yang saling sahut-menyahut membuat kami saling berlomba-lomba dan bersemangat dalam mengkhatamkan al-Quran.

 

Tim ifthar senantiasa mendukung

Di sisi lain, para panitia ifthar yang terdiri dari kelas 2 takhasus memang telah memprediksi bahwa malam ke 27 akan dipenuhi santri yang akan membaca al-Quran. Oleh karena itulah panitia ifthor telah mempersiapkan hidangan guna mengusir kantuk dan sebagai pemantik api semangat dalam menghidupkan malam di bulan yang mulia ini.

Menu yang disajikan sedikit beranekaragam. Di antaranya adalah kurma coklat yang telah dipersiapkan oleh tim ifthor sedari pagi. Ada juga risol, sosis goreng, dan kurma goreng. Ada salah seorang santri PT (Pra Tahfizh) yang bertnya, “Kok menu dari kurma banyak sekali mi?” Maka dijawab oleh salah seorang teman kami, “Iya, karena di pondok kita ini Alhamdulillah stok kurma masih banyak.” Si anak PT tadi hanya menganggukkan kepala. Adapun minumannya panitia ifthor telah mempersiapkan kopi hangat dan susu.

 

Menjawab pertanyaan santri Tahfizh

Ada sebuah percakapan lucu antara kami dan salah seorang santri tahfizh, “Mi, kenapa enggak dari kemarin aja kaya gini makanannya, banyak-banyak?” Kata anak tahfizh itu dengan kepolosannya. Maka ada teman kami yang spontan menjawab, “Iya, karena kemarin yang ke masjid enggak banyak (tidak sebanyak malam ini). Makanya kalo mau banyak makanannya, ajak teman-teman antum ke masjid baca al-Quran.” Sambung teman kami, “Tuh dengerin, jangan tidur makanya, mending ke masjid baca al-Quran. Dapat pahala, dapat juga makanan.” Kata si anak tadi kepada temannya. Kami pun tertawa.

Waktu berputar dengan cepat. Tidak terasa jarum pendek pada jam dinding masjid kami telah berada tepat di angka tiga. Satu-persatu para santri mulai beranjak menuju sakan-nya (kamar) masing-masing. Para santri pun bergegas melakukan persiapan sahur.

 

Manfaatkanlah sisa waktu

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, marilah kita manfacatkan sisa waktu dari bulan Ramadhan ini. Kita hidupkan malam-malam terkahir dari bulan ini dengan memperbanyak membaca al-Quran dan doa, serta ibadah-ibadah lainnya. Semoga dengannya kita bisa mendapatkan malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Amin

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.