Proses Turunnya Al-Qur’an, Ucapan Allah

 

Terjemahan Fatwa Oleh Asyraf Merauke, Takmili

 

Pertanyaan

Bagaimana turunnya Al-Quran? Apakah ia benar-benar ucapan Allah Taala yang hakiki, ataukah ia turun dalam sebuah bentuk tertentu lalu diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Lalu Rasul menyebarkannya dengan menyampaikan lafal yang sesuai.

Apabila al-Qur’an itu adalah ucapan Allah yang hakiki, maka berarti Allah berbicara seperti manusia. Apabila Allah berbicara seperti manusia, berarti kita beribadah kepada sesuatu yang bisa berbicara seperti kita?

 

Jawaban

Al-Quran benar-benar ucapan Allah Taala yang hakiki, baik itu lafal maupun maknanya. Allah, Rabb semesta alam mengucapkannya dan Jibril ‘alaihis salam mendengarkannya. Kemudian Jibril ‘alaihis salam menyampaikannya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengubah sedikit pun. Sebagaimana yang Allah katakan:

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ.

“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195)

 

Allah telah menjamin untuk menjaga dan mengumpulkannya dalam hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjelaskannya kepada beliau, sebagaimana yang Allah katakan:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Dan Allah juga mengatakan:

لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya tanggungan Kami-lah untuk mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya tanggungan Kami-lah untuk menjelaskannya. (QS. Al-Qiyamah: 16-19)

 

Berbicaranya Allah tidak sama dengan bicaranya manusia, jin, dan malaikat. Namun ia memiliki sifat dan tatacara yang khusus pada Allah Taala. Tidak ada yang tahu hakikatnya kecuali Allah Taala, dan tidak ada yang semisal dengannya dari para makhluk-Nya, sebagaimana Allah katakan:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Maha tinggi Allah Taala dengan setinggi-tinggi dan sebesar-besar-Nya, dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim.

Wabillahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

 

Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyyati wal Ifta’, pertanyaan ke-3 dari fatwa no. 6525

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.