Santri tidak boleh gengsi

Oleh Muadz Syarqi dan Ilham Mahruz 2B Takmili 

 

Semoga kita semua tetap kokoh di atas jalan yang mulia ini, jalan thalabul ilmi. Semoga kalian tetap berada di atas pemahaman yang benar serta kokoh dalam memegang tongkat estafet dakwah ini.

Bersyukurlah, yang mana kita masih memegang predikat seorang santri dimana banyak mudai-mudi yang gengsi terhadap kedudukan yang mulia ini. Tidak sedikit dari mereka yang beranggapan, “Kalau nyantri, pas gede nanti mau jadi apa?” Allahul musta’an, hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan. Sungguh pernyataan yang bertolak belakang dengan kenyataan.

Justru dengan menjadi seorang santri, kita dapat mengetahui apa saja yang Allah larang dan Allah perintahkan. Diantara hal yang Allah perintahkan adalah menaati pemerintah di negeri ini, terlebih di masa pandemi. Di mana pandemi ini sebagai ujian bagi siapa saja yang kokoh di atas manhaj dan agama yang benar dan siapa saja yang hanya ikut-ikutan terombang-ambing kesana kemari.

Kenikmatan untuk terus berthalabul ilmi dan bersemangat mempelajari agama adalah tanda orang-orang yang diberi taufik oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Lakukan hal-hal yang bermanfaaat, jangan berputus asa dan panjang angan-angan, karena sesungguhnya di antara tanda kesempurnaan Islam seorang hamba adalah meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat dan mencukupkan terhadap segala sesuatu yang bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. atTirmidzi no. 2317)

Cukuplah dua hadits di atas untuk menumbuhkan rasa semangat pada seorang santri untuk meniti jalan thlabul ilmi syar’i. Meskipun hanya seorang diri dan banyak gangguan silih berganti datang menghampiri, namun dia tak kenal malam maupun pagi untuk selalu bersemangat untuk dunia terlebih akhiratnya nanti. Barakallahu fikum.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.