Ukhuwah yang Menyatu, Di Tengah Hujan Berderu

“Besok ada lomba ya, ajak teman-temannya!” seru kami kepada anak-anak Gondang atas. “Anak Gondang bawah diajak juga ya,” tambah kami dengan semangat. Hari Ahad besok adalah hari libur, dan kami tak ingin melewatinya begitu saja. Maka kami pun berencana mengadakan sebuah lomba — bukan lomba biasa, tapi lomba untuk merekatkan ukhuwah, mempertemukan dua wilayah yang kadang berjalan sendiri: anak-anak Gondang atas dan Gondang bawah.

Pagi itu, suasana desa masih sejuk dan lembab. Beberapa teman kami sudah lebih dulu turun ke lapangan untuk me-combret — mengarit rerumputan yang menjulang tinggi, agar tempat bermain lebih lapang dan nyaman. Rumput yang semula liar kini mulai memendek di bawah sabetan sabit.

Siangnya, kami sibuk mempersiapkan segalanya: membeli perlengkapan lomba, menyiapkan ember, plastik, dan berbagai alat sederhana yang akan digunakan untuk permainan perang air. Suasana penuh tawa dan riuh kecil, tanda semangat kami tak kalah dari anak-anak yang akan bermain nanti.

Menjelang sore, selepas salat Ashar, anak-anak mulai berdatangan. Dari kejauhan, tampak rombongan anak Gondang atas berjalan kaki menyusuri jalan desa, sementara anak Gondang bawah datang dengan motor, membawa semangat dan wajah ceria. Semua berkumpul di lapangan yang sudah bersih — arena persahabatan sore itu.

“Kalau saya teriak dag dig dug, kalian jawab duwar!” teriak teman kami yang bertugas sebagai pembawa acara. “Dag dig dug!” teriaknya lantang. “Duwar!” sahut anak-anak serempak, menggema penuh semangat. Begitulah nama lomba sore itu tercipta: Dag Dig Dug Duwar, sebuah simbol keakraban yang sederhana tapi penuh makna.

Perlombaan pun dimulai. Satu ronde, dua ronde, air berhamburan ke mana-mana. Tawa anak-anak menggema, menggantikan suara gawai yang kini mereka tinggalkan. Tapi di tengah keriuhan itu, langit tiba-tiba berubah. Awan hitam menggantung, lalu… “Druuusssh!” hujan deras mengguyur lapangan. Dalam sekejap, semua basah — tapi tak ada yang berlari. Tak satu pun anak yang ingin berhenti. Justru semangat mereka semakin menjadi-jadi. Mereka tetap bermain, berlari, saling menyiram air, kini berpadu dengan hujan yang turun dari langit.

Kami berdiri di pinggir lapangan, menyaksikan pemandangan itu dengan senyum lebar. Ada haru yang sulit dijelaskan. Di tengah derasnya hujan, kami melihat ukhuwah itu benar-benar hidup. Anak Gondang atas dan bawah tak lagi terpisah, mereka bersatu dalam tawa yang sama — basah, tapi bahagia.

Di masa seperti sekarang, mengajak anak-anak bermain fisik bukan perkara mudah. Gempuran teknologi sudah merajalela, menjerat anak-anak dalam dunia yang sempit di balik layar ponsel. Banyak di antara mereka yang lebih suka menyendiri di kamar, larut dalam gim dan tontonan, menjauh dari kehidupan sosial dan kehilangan rasa peduli. Dunia maya memang mengasyikkan, tapi seringkali mematikan jiwa kebersamaan. Dari sanalah muncul kerusakan, kebekuan hati, bahkan akhlak yang buruk — wal ‘iyadzu billah.

Maka kegiatan sederhana seperti ini adalah upaya kecil untuk menghidupkan kembali fitrah bermain, bergaul, dan tertawa bersama. Kami ingin anak-anak merasakan hangatnya interaksi tanpa teknologi, merasakan serunya kerja sama, dan belajar akhlak dari permainan. Karena mendampingi mereka, bergaul dengan mereka, dan membimbing mereka dengan akhlak mulia — itulah sebagian dari akhlak nubuwah.

Rasulullah ﷺ telah memberi teladan yang begitu lembut. Suatu ketika beliau keluar untuk melaksanakan salat Isya sambil menggendong Hasan atau Husain. Ketika salat dimulai, beliau meletakkan cucunya di dekatnya. Lalu saat sujud, sujudnya begitu lama hingga para sahabat heran. Setelah salat, mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa sujudmu panjang?”

Beliau menjawab, “Anakku (cucuku) naik ke punggungku, maka aku tidak ingin tergesa-gesa hingga ia puas (bermain).” (HR. An-Nasa’i, disahihkan oleh Al-Albani).

Anas bin Malik juga mendokumentasi keindahan akhlak Nabi ﷺ , “Sesungguhnya Nabi ﷺ biasa bergaul dengan kami, sampai-sampai beliau berkata kepada adik kecilku, ‘Wahai Abu ‘Umair, apa yang dilakukan oleh burung kecilmu (an-nughair)?’” (HR. Bukhari).

Betapa indahnya kelembutan Nabi ﷺ. Beliau menjadikan kasih sayang terhadap anak sebagai bagian dari ibadah. Itulah yang ingin kami teladani — bermain bersama anak bukan sekadar hiburan, tapi cara untuk menumbuhkan cinta, mendidik dengan hati, dan menanamkan akhlak.

Sore itu, di bawah rintik hujan dan tawa anak-anak Gondang, kami belajar satu hal penting: ukhuwah bisa tumbuh dari hal sederhana, dari tawa yang tulus dan permainan yang mengajarkan kebersamaan. Air hujan mungkin membasahi tubuh, tapi kehangatan yang muncul darinya — itulah yang mengalir ke hati. 🌧

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses