Waspada Berita Dusta!

 

Oleh Naufal Amir Takhasus

 

Kedustaan yang Telah Tersebar

Sungguh, telah tersebar di tengah-tengah manusia beragam akhlak buruk, berupa kedustaan-kedustaan yang bersumber dari lisan-lisan sebagian orang. Mereka tidak memerdulikan apa yang mereka katakan berupa kedustaan-kedustaan yang keluar dari mulut-mulut mereka, dan tidak waspada dari ancaman yang ada pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَلاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً

“Sesungguhnya kedustaan akan mengantarkan pelakunya kepada kejelekan, dan kejelekan akan mengantarkannya ke neraka. Tidaklah seorang terus menerus berbuat kedustaan sampai ia dicatat oleh Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim)

 

Kondisi Kebanyakan Manusia

Banyak manusia mengucapkan sebuah ucapan yang bersumber dari prasangka-prasangka dusta, kemudian menyebarkannya ke tengah-tengah manusia tanpa peduli akibatnya. Terkadang hal tersebut menyebabkan kesedihan dan rasa sakit yang ada di hati seorang muslim, serta menyebabkan tercemarnya nama baiknya, padahal apa yang ia katakan bukanlah suatu hakekat kenyataan yang ada padanya, sehingga dengan sebab itu ia menanggung dua dosa besar; dosa kedustaan dan dosa permusuhan terhadap saudaranya semuslim.

 

Ancaman Bagi Orang yang Tidak Memedulikan Ucapannya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ لاَيَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

“Seorang yang mengucapkan sebuah ucapan, dia menganggap itu tidak ada apa-apa, ternyata dengan itu dia tersungkur ke neraka sedalam jarak 70 musim.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’)

Orang-orang yang menukil dari sangkaan-sangkaan belaka dan tidak ada hakekat kenyataan padanya, sehingga terkadang dengan hal tersebut akan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kaum muslimin, serta menimbulkan perpecahan, dan menjadi sebab tercerai-beraikannya persatuan kaum muslimin disebabkan hal-hal yang muncul dari prasangka-prasangka lemah dan prasangka-prasangka dusta.

Banyak dari manusia menukil sebuah ucapan tentang kepribadian salah seorang dari orang lain, hanya sebatas apa yang tersebar di kebanyakan orang. Terkadang kalau anda meneliti kembali berita-berita tadi, anda dapati hal tersebut adalah sebuah kedustaan yang dibuat-buat, tidak sesuai dengan apa yang anda dengar. Atau anda mendapati hal tersebut dalam keadaan telah diubah-ubah, ditambah-tambah, atau anda dapati telah dikurang-kurangi dari hakikat aslinya.

 

Seorang mukmin yang berakal ialah yang melakukan klarifikasi pada berita yang datang, serta berhati-hati dalam menukilkannya, sehingga ia tidak menukil sebuah kesalahan atau kedustaan. Dalam hadits shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يُزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang bebicara dengan suatu pembicaraan, ia tidak memikirkannya, sehingga dengan sebab itu ia pun terjatuh ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (HR. Ahmad dan disahihkan oleh Syaikh Albani dalam kitab Tartiibu Ahaditsil Jami’ as-Shaghir)

Makna hadits: dia tidak melakukan klarifikasi dan tidak mengetahui apakah itu baik atau buruk, benar atau dusta.

 

Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالمَرْءِ كَذِباً أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakan telah berdusta apabila ia memberitakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

 

Koreksi Diri Anda!

Oleh karena itu, hendaknya bagi kita untuk menjaga lisan, jangan sampai kita melepas tali kendalinya sehingga akan membinasakan, apabila kita mau berbicara maka ingatlah perkataan Allah,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الاَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diamlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Renungan

Ketahuilah sesungguhnya kita semua akan dihisab atas seluruh apa yang keluar dari mulut-mulut kita, maka apa yang akan kita jawab apabila kita ditanya, “Bukankah engkau telah mengucapkan demikian dan demikian? Dari mana engkau dapatkan? Mengapa engkau berbicara padahal perkaranya belumlah jelas?”

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala meringankan hisab kita semua di akhirat kelak. Amiin ya Rabbal ‘alamin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.