✊Semangat Tak Sirna, Walau Jalan Tak Rata
Suara deru mesin tua memecah keheningan di afdeling Gondang. Debu beterbangan, roda besi berputar perlahan menelusuri jalan berbatu yang tak rata. Bukan bus, bukan pula angkot, tapi sebuah truk besar yang oleh warga setempat dijuluki “taksi”.
Berbeda dengan kota, di mana taksi hanya memuat dua hingga tiga orang penumpang dengan fasilitas nyaman, taksi Gondang bisa membawa sepuluh orang lebih. Bahkan, bukan hanya manusia, melainkan juga karung-karung beras, hasil panen, hingga bahan pangan lainnya. Semua disusun rapi, berdesakan di bak truk, namun justru di sanalah terjalin keakraban.
“Kalau ke Tanggul, ongkosnya dua ratus ribu,” ujar seorang warga. Mereka sudah terbiasa menempuh perjalanan sekitar 45 menit, melewati jalan panjang yang sempit, penuh lubang, dan terkadang licin kala hujan turun.
Meski begitu, warga Gondang masih bisa bercanda. “Jalan di Gondang ini jalan tol. Tol… ngantol!” celetuk warga sambil terkekeh, disambut tawa santri PKL.
Namun, di balik canda, ada kisah getir yang tak jarang terdengar. Karena fasilitas kesehatan belum tersedia di desa, banyak warga yang harus turun ke bawah menggunakan “taksi” ini untuk berobat. Beberapa bahkan bercerita, ada ibu-ibu yang melahirkan di tengah jalan karena tak sempat sampai ke rumah sakit. Perjalanan yang panjang, jalan yang berguncang, dan jarak yang melelahkan menjadi saksi bisu perjuangan warga Gondang dalam menggapai kehidupan yang lebih baik.
“Kalau jalannya sudah mulus, mungkin Gondang sudah jadi tempat wisata, dek,” ucap seorang warga penuh harap. Memang, keindahan alam Gondang menyimpan potensi besar. Hamparan hijau perkebunan, udara sejuk, dan keramahan warganya bisa menjadi daya tarik luar biasa. Namun, semua itu seakan tertahan oleh kondisi infrastruktur yang masih jauh dari kata layak.
Di tengah keterbatasan itu, semangat warga tak pernah sirna. Mereka tetap berusaha, tetap tertawa, tetap bersyukur. Bagi mereka, jalan rusak hanyalah ujian, bukan penghalang. Dan di balik semua itu tersimpan pesan mendalam: bahwa kebahagiaan bukan terletak pada mulusnya jalan, tetapi pada kuatnya hati menapaki perjalanan.
Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Asy-Syarh: 6–8)
Ayat ini seolah hidup di tengah warga Gondang. Jalan boleh terjal, tetapi harapan mereka tetap tegak. Perjuangan boleh berat, namun keyakinan mereka lebih kuat. Di atas truk yang disebut taksi itu, mereka belajar arti kesabaran, kebersamaan, dan keteguhan hati.


