💦 SUNGGUH, BERSAMA KESABARAN PASTI ADA JALAN KEMUDAHAN

Kisah Kunci Gudang yang “Hilang”

Sabtu siang (06/09), setelah belajar, santri berbondong-bondong menuju kamar untuk merebahkan badan. Mereka beristirahat sejenak agar kegiatan selanjutnya bisa dijalani dengan penuh energi dan semangat. Namun, ada seorang santri yang keluar dari kebiasaan. Namanya Ahmad.
Ahmad termasuk salah satu anggota tim peralatan persiapan PKL-SPN.

Saat mayoritas santri tidur, di waktu yang memang lazim digunakan untuk istirahat, Ahmad justru sibuk memegang selembar kertas. Ia lalu mencari teman-teman yang satu tim dengannya. Kira-kira apa yang akan dilakukan Ahmad?

Masyaallah, ternyata Ahmad mengajak timnya untuk bermusyawarah. Mereka berdiskusi, saling mengeluarkan saran, dan membagi tugas.

Rapat itu begitu aktif, ide-ide cemerlang pun bermunculan. Kurang lebih setengah jam rapat berjalan, kelompok ini tampak begitu semangat dan kompak. Semoga Allah senantiasa menjaga niat-niat mereka agar selalu ikhlas dalam beramal.

Tak lama kemudian terdengar azan Zuhur. Mereka pun shalat berjamaah, lalu beristirahat siang untuk menyimpan energi agar sore hari bisa langsung bergerak. Benar saja, selepas istirahat, Ahmad dan timnya mulai bergerak mencari peralatan yang dibutuhkan untuk PKL-SPN.

Ahmad teringat bahwa sebagian peralatan ada di gudang. Sayangnya, gudang itu terkunci dan kuncinya dipegang oleh ustadz Rifai.
Ahmad pun segera menuju rumah ustadz Rifai. Namun, setibanya di sana, rumah terlihat sepi. Ia mengetuk sambil mengucap salam sampai tiga kali, tetapi tak ada jawaban.

Ahmad pun teringat perkataan salah seorang ustadz, bahwa hari itu ada yang ke lapangan besar untuk bermain bola bersama ikhwan. “Mungkin ustadz Rifai juga ikut,” pikir Ahmad. Meski belum berhasil mendapatkan kunci, Ahmad tidak putus asa. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Coba nanti saja setelah Isya.”
Singkat cerita, selepas Isya, Ahmad kembali menuju rumah ustadz Rifai. Kali ini ia tidak sendiri, ia mengajak temannya, Farih.

“Rih, ayo kita kerja,” kata Ahmad.

“Kerja apa?” tanya Farih.

“Apa lagi kalau bukan mengumpulkan peralatan,” jawab Ahmad.

“Oo iya, kita kan tim peralatan,” timpal Farih.

“Rih, kamu nggak sibuk?” tukas Ahmad sekali lagi.

Farih tersenyum, “Tidak. Walau aku juga tim kantin, aku sudah menitipkan kantin kepada ikhwan lain.” Masyaallah, begitu semangatnya Farih.

Mereka berdua pun menuju rumah ustadz Rifai. Alhamdulillah, kali ini ustadz ada di rumah. Namun, ketika Ahmad dan Farih bertanya tentang kunci gudang, ustadz Rifai menjawab, “Kuncinya bukan di saya, sekarang ada di Abdurrahman.” Lagi-lagi, usaha mereka belum berhasil. Tapi semangat itu tak pernah padam. Mereka lalu menemui Abdurrahman.

Saat ditanya, Abdurrahman tampak setengah lupa, “Ana taruh di mana ya kunci itu? Tunggu sebentar, ana tanyakan ke Usamah dulu.” Ahmad dan Farih dengan sabar menunggu. Setelah sekitar lima menit, barulah kunci itu ditemukan. Betapa leganya mereka, “Alhamdulillah, sudah ketemu,” ucap Ahmad dan Farih penuh syukur.
Bertiga dengan Abdurrahman, mereka menuju gudang.

Sesampai di sana, mereka membuka pintu gudang dan masuk. Namun, ternyata hanya sebagian peralatan yang ditemukan. Ahmad bertanya kepada Abdurrahman, “Kira-kira peralatan lainnya ada di mana lagi?” Abdurrahman, selaku juru kunci, menjawab, “Ada di gudang satunya, dekat kantin.” Ahmad langsung menyahut, “Ayo kita cari ke sana, soalnya alat yang dibutuhkan masih banyak, ini baru sebagian.” Abdurrahman pun setuju.

Mereka menuju gudang satunya, dan alhamdulillah, sebagian besar peralatan yang dicari akhirnya ditemukan. Walau belum terkumpul semua, mereka tetap bersyukur. Peralatan itu lalu mereka kumpulkan menjadi satu, kemudian diangkut bersama-sama menggunakan gerobak.
Di perjalanan, mereka melewati para santri lain yang sedang ada acara. Salah seorang teman Ahmad, Abdullah, berseru, “Ahmad, semangat ya!” Ahmad menjawab, “Iya, semangat. Kita mau PKL-SPN.”

Tak lama, mereka bertemu lagi dengan Hisyam. “Mad, mau buat apa alat-alat ini?” tanya Hisyam. Ahmad menjawab, “Untuk persiapan PKL-SPN.” Hisyam sedikit terkejut, “Persiapan PKL-SPN? Bukankah PKL masih lama? Lagipula masih ada ujian?” Ahmad pun menjawab dengan mantap, “Namanya juga persiapan, harus jauh-jauh hari. Apalagi agenda PKL-SPN ini adalah agenda besar. Sama halnya dengan ujian yang akan kita hadapi. Dua-duanya adalah amalan besar yang harus dipersiapkan dengan matang. Intinya, kita harus bisa menjamak dua amalan besar itu.”

Kisah Ahmad dan timnya menunjukkan bahwa kerja keras, kesabaran, dan kebersamaan adalah kunci dalam menghadapi amanah besar. Meski harus melewati banyak rintangan. Dari pintu gudang yang terkunci, kunci yang berpindah tangan, hingga peralatan yang tersebar—semangat mereka tak pernah surut.

🗝 Setelah kesulitan, pasti akan ada kemudahan …

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ۝٥

“Sungguh, bersama kesulitan, ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5)

Sahabat Mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu menjelaskan maksud dari ayat di atas,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ كَانَ الْعُسْرُ فِي حَجَرٍ، لَطَلَبَهُ الْيُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ، وَلَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kesulitan itu berada di suatu lobang, niscaya kemudahan akan mencarinya sehingga ia bisa mendapatkannya di lobang itu. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Tafsir al-Qurthubi XX/107)

Dari sini juga kita belajar, bahwa persiapan yang ikhlas dan sungguh-sungguh adalah langkah menuju keberhasilan. Jika santri rela meninggalkan istirahat demi persiapan dakwah, maka kita pun harus siap berkorban untuk cita-cita yang lebih besar.

Semoga Allah menjaga niat mereka, memberi keberkahan dalam usaha, dan menumbuhkan jiwa-jiwa santri yang siap berkhidmat untuk agama dan negeri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses