Amalan bisa menjadi sia-sia

close up of businessman ruined shirt and and leaking pen

 

Oleh Lukman Hamzah Takhasus

 

Ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwa seluruh amalan kita, baik berupa amalan lisan, amalan hati, maupun amalan anggota badan, semuanya sangat ditentukan keberhasilannya oleh keikhlasan.

Perkara ini walaupun sering didengar dan dibahas, namun kita tidak semestinya bosan. Karena demikianlah, keadaan hati manusia cepat berubah. Maka sangat perlu untuk sering diingatkan dan diperhatikan. Terlebih manakala hati seorang mulai menyimpang dari niatan yang semestinya.

 

Kunci keberhasilan seorang hamba

Keikhlasan memliki pengaruh yang amat besar pada keberhasilan amalan seorang hamba. Apakah amalan tersebut menjadi amal diterima yang akan bermanfaat bagi pemiliknya di hari kiamat. Ataukah menjadi amalan tertolak yang kelak akan merugikan pemiliknya di akhirat.

Meskipun keikhlasan letaknya di dalam hati, namun setidaknya ia memiliki ciri-ciri yang turut muncul pada diri pelakunya. Di antara ciri-cirinya adalah sikap sabar. Sebuah istilah arab sangat tepat ketika mendeskripsikan kesabaran, yaitu apa yang sering kita dengar:

مر مذاقته لكن عواقبه أحلى من العسل

“Pahit dirasa, akan tetapi hasilnya lebih manis daripada madu.”

 

Buah keikhlasan

  1. Sabar

Seorang yang ikhlas akan menjadi penyabar. Kita dapat melihat keteladanan para salaf pada kesabaran mereka dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalanginya. Sejarah adalah saksi atas kesabaran mereka dalam menghadapi tantangan tauhid dan sunnah. Mereka kokoh dan tidak goyah sedikitpun. Bagaikan gunung yang menjulang tinggi, semisal Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, Sufyan bin Uyainah, al-Barbahari dan selain mereka.

Apa yang menyebabkan mereka mampu melakukannya? Tiada lain karena keikhlasan dalam bertauhid, bermanhaj, dan dalam menjalankan sunnah. Mereka mengerti habwa tauhid dan sunnah yang mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, memiliki konsekuensi dan tantangan.

 

  1. Terus beramal

Demikianlah keterkaitan antara ikhlas dan sabar. Orang yang ikhlas, pasti akan sabar. Begitu pula dia akan berkesinambungan dalam beramal. Ia akan terus melakukan amal kebaikan, dilihat orang lain maupun tidak. Dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berabda:

طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ , أَشْعَثَ رَأْسُهُ , مُغَبَّرَّةٍ قَدَمَاهُ, إِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ , وَإِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ , إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤَذَنْ لَهُ

“Sebuah pohon di surga akan disiapkan untuk seorang hamba yang memegang tali kekang kudanya dalam rangka berjihad di jalan Allah. Rambutnya kusut, kedua kakinya berdebu. Apabila ia (ditugaskan) untuk berjaga dibarisan depan pasukan, ia berjaga di barisan depan. Dan apabila ia (ditugaskan) untuk membantu di barisan belakang pasukan, ia berada di belakang. Jika meminta izin, niscaya tidak diberi izin lantaran tak dikenal. Jika memberi syafa’at untuk orang lain, niscaya tidak diterima syafa’atnya.” (HR. Al-Bukhori no. 2886)

 

Kandungan hadits ini menyebutkan bahwa seorang yang ikhlas akan senantiaasa melakukan amal sholeh dan tidak mudah berkeluh kesah. Jika diberi amanah untuk berjaga di barisan depan yang sangat rawan terhadap serangan musuh, segera ia laksanakan. Dan jika diberi tugas untuk membantu pasukan barisan belakang yang berkonsekuensi tidak dipandang oleh mata manusia, ia tetap bergegas melaksanakannya. Sungguh, harapannya hanya tertuju kepada Allah Ta’ala.

 

  1. Tidak mudah kecewa

Ketahuilah wahai saudaraku, seorang yang ikhlas tidak akan kecewa kepada manusia. Dalam lingkup dakwah dan ta’awun misalnya, di saat manusia tidak bisa menghormati jerih payahnya, pengorbanannya, maupun kesungguhannya, dia tidak kecewa. Karena dia hanya mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, harapannya hanya bergantung pada ganjaran dan kedudukan di sisi-Nya.

Dia tidak akan menghentikan langkahnya, meskipun manusia tidak memperdulikan dan menghargainya. Dia tidak berputus asa seraya mengatakan, “Lebih baik saya berhenti, mereka tidak menghargai jerih payahku! Mereka tidak peduli! Mereka hanya sibuk dengan diri sendiri!” Akhirnya dengan sebab ini, dia meninggalkan dakwah yang mulia atau berhenti dari ta’awun.

 

Penutup

Semoga kita diberi taufik agar bisa selalu ikhlas dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan. Mudah-mudahan kita diberi kesabaran, sehingga bisa beramal secara kontinyu, amin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.