Selamat datang para calon santri-para penuntut ilmu syar'i warisan Nabi. Untuk mengikuti ujian online UMTB klik di sini!

Kabar gembira untuk Ahlussunnah

 

Oleh Hasan Tamam Jember Takhosus

 

Musibah dan ujian pasti menyapa setiap orang, baik yang taat ataupun yang suka bermaksiat. Hanya saja, berat dan ringan ujian yang menimpa seorang hambalah yang membedakan diantara mereka. Barang siapa yang bersabar, maka ia akan mendapat pahala dan keberuntungan. Seorang pepatah berkata: “Pohon semakin menjulang tinggi, maka semakin kencang diterpa angin.”

Mungkin itulah ibarat yang sering digunakan saat ada ujian yang datang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan sejak 14 abad yang lalu, bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, setelah itu orang yang mulia setelah mereka.

 

Menuju gerbang kesuksesan

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah  mengatakan: “Ketahuilah wahai saudaraku, barang siapa yang menginginkan surga, maka ia harus meneguk pahitnya kesabaran di tengah keterasingan dan kesepian.” (Ar-Risalah al-Wadhihah: 2/376)

Sungguh keselamatan yang paling agung adalah selamatnya seorang dari syubhat dan syahwat. Maka wajib atas setiap hamba untuk mengajak dirinya berjuang agar terus bersabar di atas agama Islam ini dan berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena berpegang teguh dengan sunnah, merupakan jalan gerbang keselamatan dan jembatan yang mengantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Syaikh Hafidz al-Hakami rahimahullah  berkata: “Kokohlah kalian di atas agama yang lurus lagi terang benderang ini, wahai hamba Allah yang menginginkan keselamatan dari panasnya api neraka dan masuk ke dalam surga-Nya. Janganlah tertipu dengan sedikitnya orang yang berjalan di atasnya. Berhati-hatilah kalian menyelisihi syariat, sehingga kalian binasa bersama orang-orang yang binasa.” (Ma’arij Qobul 2/620)

 

Musibah yang parah

Barang siapa yang merenungi keadaan manusia sekarang dan orang-orang yang hidup di zaman ini, pasti dia akan  mendapati ahlus sunahlah yang keterasingannya paling menonjol. Sedangkan orang-orang yang menyimpang dengan berbagai sektenya, mereka menguasai berbagai channel, jaringan internet dan maktabah (perpustakaan) dengan racun kesesatan yang mereka semburkan.

Sungguh fitnah mereka sangat banyak, wajib bagi kita untuk berhati-hati dan memperingatkan manusia dari bahayanya. Akan tetapi, banyak dari manusia yang pemahamannya terbalik dan keadaan menjadi berubah dari yang aslinya, sehingga sunnah dianggap bid’ah dan bid’ah dianggap sunnah. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahuanhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Akan muncul pada akhir zaman nanti sekolompok manusia yang akan membuat sebuah perkara bid’ah, yang mana kalian dan orang tua kalian belum pernah sama sekali mendengarnya. Maka berhati-hatilah kalian dan waspadalah dari mereka.” (HR. Muslim no. 6)

 

Imam Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah  berkata: “Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah nabi. Sungguh aku sangat khowatir terhadap suatu zaman, apabila ada orang yang menyebut nama nabi dan berusaha untuk menyontoh beliau pada seluruh aspek kehidupannya, niscaya manusia akan mencelanya, memprovokasi manusia agar lari (menjauh) darinya, meninggalkannya, meremehkannya dan mencibirnya.” (Taisir al-Azizil Hamid)

Imam Sulaiman bin Abdillah bin Abdil Wahhab rahimahumullah mengomentari atsar (ucapan ulama) di atas: “Semoga Allah merahmati imam Sahl, sungguh sangat tepat firasatnya! Apa yang dia ucapkan sudah terjadi bahkan lebih dahsyat lagi. Yaitu ada yang menjatuhkan vonis kafir kepada seseorang disebabkan ia memurnikan tauhidnya kepada Allah, disebabkan ia menyontoh nabi dan memerintahkan manuisa untuk mengikhlaskan niat hanya untuk Allah serta meninggalkan peribadatan selain Allah.” (Taisir al-Azizil Hamid)

 

Pemutarbalikan fakta

Sangat disayangkan sekali, kita hidup di tengah deraan badai fitnah. Setiap orang yang berusaha mengamalkan al-Qur’an dan as-sunnah serta yang menyontoh para salafus sholih dipandang ‘ndeso’ dan ketinggalan zaman, sedangkan orang-orang yang meniru metodenya kaum Komunis dan Liberal dianggap modern serta mengikuti kemajuan zaman.

Mentahdzir ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu menurut pandangan kelompok yang menyempal dianggap perbuatan yang ekstrim dan ghuluw, sedangkan orang-orang yang menjajakan kebid’ahan, yang memuji-muji mereka serta yang tidak suka mentahdzir sana-sini adalah perbuatan yang baik dan adil.

 

Begitu pula memperingatkan manusia dari bahaya tokoh ahlul bid’ah dan mentahdzir cara berdakwahnya, dianggap melawan arus kebebasan, sedangkan seruan kepada kekufuran, sihir dan jampi-jampi dianggap kebebasan yang dibanggakan.

Tak pelak, ajakan kepada akhlaq yang mulia, memakai pakaian yang syar’i (sesuai dengan syari’at) dan menganjurkan para wanita agar menjaga kehormatan dirinya serta memakai hijab di hadapan orang yang bukan mahromnya dipandang ketinggalan zaman. Sedangkan orang yang menyeru kepada tabarruj (merias diri agar elok dilihat) itulah yang harus dilakukan oleh setiap wanita dan perbuatan yang disukai, mereka menganggap, “Inilah gerakan emansipasi wanita yang sesungguhnya.”

 

Demikian juga, ajakan agar taat kepada pemerintah, tidak memberontak mereka, menasehati mereka secara tertutup dan peringatan keras terhadap orang yang berdemo kepada penguasa dianggap perbuatan yang kerdil, menghinakan diri, dan penjilat penguasa.

 

Raih pahala dari musibah yang menimpa

Wajib atas setiap hamba untuk mengetahui kalau dia akan diuji saat memegang agama Allah Ta’ala, terkhusus di masa yang agama kian mengasing. Sungguh orang yang paling getol membuat makar, dan berusaha sekuat tenaga untuk mencelakakan pengikut Sunnah serta mencabik-cabik kekuatan mereka adalah ahlul bid’ah. Dari sini diketahui, makar mereka sangat licik, bahaya mereka sangat laten terhadap pemeluk Sunnah.

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah  berkata di dalam kitab Nuniyyah, pada halaman kesembilan:

لَا تُوحِشَنَّكَ غُرْبَةٌ بين الوَرَى … فالناسُ كالأَمْوَاتِ فِيْ الحُسْبَانِ

Janganlah engkau merasa kesepian di tengah para hamba

Manusia itu bagaikan orang mati ketika sedang disiksa

أَوَ مَا عَلِمْتَ بِأَنَّ أَهْلَ السُّنُّةِ … الغُرَبَاءُ حَقًّا عِنْدَ كُلِّ زَمَانِ

Apakah engaku belum tahu ahlus Sunnah kalau dia

Dari dahulu asing sepanjang masa

قُلْ لِيْ مَتَى سَلِمَ الرَّسُوْلُ وَصَحَبُهُ … وَالتَّابِعُوْنَ لَهُمْ عَلَى الإِحْسَانِ

Katakanlah kepadaku, “kapan rasul selamat begitu pula para shohabatnya

Dan juga orang yang mengikuti kebaikan setelah mereka

مِنْ جَاهِلٍ وَمُعَانِدٍ وَمُنَافِقٍ … وَمُحَارِبٍ بِالبَغْيِ وَالطُغْيَانِ

Dari gangguan dan penetangan serta kemunafikan yang hina

Serta dari perseteruan orang yang melampui batas lagi keras kepala”

وَتَظُنُّ أًنَّكَ وَارِثٌ لَهُم وَمَا … ذُقْتَ الأَذَى فِيْ نُصْرَةِ الرَّحْمَنِ

Apakah engkau mengira menjadi pewaris sejati mereka

Padahal engakau belum menelan sakitnya gangguan saat membela agama Sang pencipta

كَلاَّ وَلَا جَاهَدتَ حَقَّ جِهَادِهِ … فِيْ اللهِ لَا بِيَدٍ وَلَا بِلِسَانِ

Sekali-kali tidak, engkau belum berusaha dengan sekuat tenaga

Baik dengan tangan maupun lisan yang kau punya

مَنّتْكَ وَاللهِ المُحَالَ النَّفْسُ فَاسْـ … ـتَحْدِثْ سِوَى ذَا الرَّأْيِ وَالحُسْبَانِ

Demi Allah, jiwa ini akan menggodamu dengan berbagai godaan dunia

Maka teruslah melakukan sesuatu yang bukan didasari perasaan dan logika (yakni agama)

لَوْ كُنْتَ وَارِثَهُ لَآذَاكَ الأُلَى … َورِثُوا عِدَاه بِسَائِرِ الأَلْوَانِ

Kalau engkau memang pewaris nabi yang mulia

Niscaya mereka akan mengganggumu dengan berbagai macam cara

 

Penutup

Hanya kepada Allah-lah saya memohon agar menguatkan diri saya, orang yang membaca buku ini dan seluruh pemeluk Sunnah yang berusaha kokoh di dalam menekuninya. Wahai Dzat Yang Maha Membolak-bolakkan hati, kuatkanlah hati kami di atas agamamu. Semoga Allah Ta’ala menghitung usaha saya dalam menulis buku ini ikhlas karena-Nya. Sesungguhnya Rabbku Maha Mendengar doa.

 

Sumber: Kitab Sulwanus Salafy ‘inda Kaydil Kholafi karya Syaikh Kholid bin adz-Dzafiri halaman 10-14.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.