Mengapa Kita Beribadah Hanya Kepada Allah?

 

Oleh Mu’adz Buton Takhasus

 

Aneh tapi nyata, itulah yang terjadi di tengah-tengah umat manusia. Mayoritas mereka mengarahakan peribadatannya kepada makhluk yang lemah. Sebuah perkara yang seharusnya tidak dilakukan berdasarkan akal sehat, fitrah yang lurus, terlebih berdasarkan timbangan syariat.

Apa yang mereka ibadahi dengan berbagai bentuk peribadatan, seperti; patung pujaan yang dimintai keselamatan dari marabahaya, kotoran hewan yang diagungkan dan dicari berkahnya, ‘penunggu’ pantai yang diberi hewan sembelihan, dan kuburan wali yang dikeramatkan dan dimintai doa, adalah makhluk lemah yang tidak bisa memberikan manfaat dan bahaya sama sekali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ

“Ia (Ibrohim) berkata (kepada kaumnya, pent.), apakah kalian mengibadahi sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat dan bahaya kepada kalian dari selain Allah.(QS. Al-Anbiya: 66)

 

Lemahnya Segala Sesuatu Selain Allah Subhanahu wa Ta’ala

Cukuplah sifat lemah dalam hal tidak dapat memberikan manfaat kepada yang lain sedikit pun dan mencegah bahaya yang menimpanya, menjadi bukti bahwa sesembahan tersebut tidak pantas untuk diibadahi dengan segala bentuk peribadatan.

Yang berhak untuk ditujukan peribadatan kepadanya adalah Dzat yang memiliki sifat sifat sempurna, yang tidak ada kekurangan padanya dari segala sisi, seperti sifat al-Quwwah (Maha Kuat), al-Qudroh (Maha Mampu), dan seterusnya dari sifat-sifat kesempurnaan.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Sempurna

Para ulama menjelaskan, bahwa seluruh sifat-sifat Allah sempurna dari segala sisinya dan tidak ada kekurangan sedikit pun padanya. Hal ini didasari oleh tiga dalil:

  1. Dalil sam’i (al-Quran dan Sunnah)

Di antara dalil sam’i adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 “Orang orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat buruk; dan Allah mempunyai sifat yang maha tinggi; dan dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 60)

 

  1. Dalil ‘aqli (akal sehat)

Sisi pendalilanya, bahwa segala sesuatu yang berwujud secara hakiki, pasti memiliki sifat; bisa jadi sifat kesempurnaan atau sifat kekurangan. Dan sifat kekurangan ditiadakan bagi Allah yang Maha Sempurna sifat-sifat-Nya.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ketidak benaran nilai-nilai ketuhanan pada makhluk dengan menyebutkan sifat kekurangan dan kelemahan yang ada pada mereka. Walaupun mereka adalah para nabi, rasul dan malaikat yang suci dari dosa sekalipun.   Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

“Dan sesembahan yang mereka seru selain Allah, tidak dapat menciptakan sesuatu apapun, justru merekalah yang diciptakan.” (QS. An Nahl: 20)

 

Telah tetap berdasarkan panca indra dan persaksian bahwa makhluk juga memiliki sifat kesempurnaan yang Allah berikan kepada mereka, sehingga Dzat yang memberikan sifat sempurna tersebut lebih pantas memiliki sifat kesempurnaan.

Namun yang perlu diketahui, adanya sifat-sifat sempurna pada makhluk sangatlah lemah dan banyak kekuranganya jika dibandingkan dengan sifat kesempurnaan pada Allah ‘Azza wa Jalla dan bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya.

 

  1. Dalil fitrah (nurani suci)

Dengan jiwa selamat yang terlahir di atas fitrah yang suci, seorang manusia tidak akan mencintai, mengagungkan, dan beribadah kepada sesuatu apapun, kecuali kepada Dzat yang disifati dengan sifat kesempurnaan dan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan.

 

Yang Paling Sempurna, Dialah Yang Berhak Diibadahi

Berdasarkan tiga dalil kesempurnaan sifat-sifat Allah di atas, diketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala   adalah satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi oleh setiap makhluk, terkhusus bangsa jin dan manusia yang mereka diperintah untuk beribadah kepadanya.

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

 

Penutup

Demikianlah, semoga tulisan yang ringkas ini dapat menjadikan pondasi tauhid kita menjadi semakin kuat. Amiin. Wallahu a’lam.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.