Perhatikan yang keluar dari lisan

 

Oleh Ahmad Hidayat Sukoharjo 4B Takhasus

 

Para pembaca,

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita kepada jalannya yang haq (benar).

Sekecil apapun karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, wajib untuk disyukuri. Yaitu dengan menggunakan karunia tersebut untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan mencari pahala di sisi-Nya.

Sungguh celaka apabila Allah Ta’ala memberikan kepadanya berbagai kenikmatan, namun tidak ia gunakan kenikmatan tersebut untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Maka adzab Allah Ta’ala sangatlah pedih.

Di antara sekian banyak karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada seorang hamba adalah lisan yang dengannya ia dapat berbicara dan mengungkapkan segala yang ia inginkan.

Namun tidak sedikit dari kita yang belum sadar akan hal ini. Lisan yang seharusnya selalu basah untuk berdzikir mengingat Allah Ta’ala digunakan untuk mengghibahi (membicarakan hal yang dibenci untuk dibicarakan) saudaranya, melakukan namimah (adu domba), berkata dusta, dan yang lainnya dari perkara-perkara dosa.

Wahai saudaraku, apakah kita tidak sadar bahwasannya seseorang bisa masuk surga dan neraka disebabkan lisannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ، أَوْ قَالَ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ، إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

“Tidakkah manusia diseret ke dalam neraka diatas wajah-wajah (atau mengatakan) hidung -hidung mereka melainkan karena disebabkan oleh lisan-lisan mereka?” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Bahkan lisan yang kita punya akan mempersaksikan segala sesuatu yang pernah kita ucapkan di hapan Rabbul ‘Izzah Dzat pemilik langit dan bumi. Allah Ta’ala berkata,

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Pada suatu hari dimana lisan, tangan, dan kaki mereka semuanya bersaksi terhadap segala sesuatu yang mereka perbuat.” (QS. an-Nur: 24)

Itulah hari kiamat, hari di mana dibangkitkannya seluruh manusia, hari dibalasnya amalan-amalan hamba. Apakah kita akan lalai dan terus menerus melakukan namimah,  ghibah, dan menjatuhkan kehormatan saudaranya, bahkan berani menyebarkan aib saudaranya kesana-kemari dengan dusta. Sungguh ini bukanlah akhlaq seorang muslim.

Wahai saudaraku seiman…………..

Kita tidak tahu kapankah kita akan menghadap Rabbul ‘Izzah mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan kita. Kita tidak tahu di manakah kita akan meninggal dunia, apakah di waktu dan tempat yang Allah Ta’ala ridhai ataukah di saat kita melakukan dosa, berkumpul, bercanda ria, membicarakan aib saudaranya, lalu kemudian di saat itulah datang malikat maut mencabut nyawa kita, di saat kita belum bertaubat dari segala kealpaan. Padahal seluruh ucapan kita dicatat oleh malaikat Raqib dan ‘Atid. Allah Ta’ala berkata,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidaklah segala ucapan yang diucapkan melaikan akan dicatat oleh malaikat Raqib dan ‘Atid.” (QS. Qaf: 18)

Kita berharap agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu menjaga lisan kita, dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mematikan kita di atas khusnul khatimah (akhir yang baik). Amiin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses