Perpisahan yang Menyatukan Hati
Malam itu, malam perpisahan tiba—malam terakhir kami di afdeling Gondang. Udara lembut membawa suasana syahdu, seolah ikut memahami bahwa inilah malam yang tak sekadar penutup kegiatan, tapi juga penanda eratnya ikatan antara kami dan warga sekitar.
Untuk lebih merekatkan ukhuwah, kami pun mengadakan acara makan-makan perpisahan bersama para petinggi kebun dan tokoh masyarakat. Dua ekor kambing disembelih. Dagingnya dimasak bersama, disantap bersama, dan dinikmati dalam kehangatan kebersamaan yang sulit dilukiskan. Namun, acara malam itu bukan sekadar makan-makan. Kami ingin meninggalkan kesan, bukan hanya kenyang.
Acara dimulai dengan kesan dan pesan dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Pak Haji Sadeli, tokoh masyarakat yang dengan tulus mengungkapkan rasa terima kasihnya.
“Ini kemarin juga masyarakat dengan adanya teman-teman anak PKL dengan periksa gratis, semuanya ini merasakan nikmatnya, Pak. Memang merasa bahagia, sungguh, Pak. Termasuk ada khitanan, termasuk ada bonus itu kemarin, Pak, gratis …. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.”
Simak kesan pesan masyarakat di sini
Kata-kata beliau menggambarkan betapa kehadiran sederhana kami telah memberi arti di hati masyarakat Gondang.
Dalam kesempatan tersebut salah seorang santri membacakan beberapa ayat suci Al-Qur’an dari surah Al-Kahfi tentang kisah pemilik dua kebun. Usai pembacaan, Pak Askep tersenyum lalu bertanya ringan, “Apa tafsirnya?”
Salah satu teman kami menjawab, “Ayat ini mengingatkan kita untuk mensyukuri nikmat Allah.”
Beliau menimpali dengan nada renungan, “Para santri ini ingin menyindir kita—apakah kita sudah bersyukur di PTPN ini?”
Kalimat itu seketika menyentuh semua yang hadir, seolah malam itu bukan hanya ajang perpisahan, tapi juga pengingat tentang rasa syukur dan makna bekerja dengan hati.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan syair. Salah satu teman kami maju dengan semangat yang menyala, menyampaikan bait demi bait penuh makna. Suaranya menggema di tengah pekat malam, menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Pak Astan, salah satu pimpinan kebun, tampak begitu menikmati lantunan itu. Sebagai bentuk apresiasi, beliau memberikan ongkos gratis transportasi pulang ke pesantren. Kami hanya bisa tersenyum dan berucap, “Alhamdulillah.” Hadiah itu bukan sekadar bantuan, melainkan tanda cinta dan penghargaan atas ukhuwah yang terjalin.
Malam pun berakhir dengan mata yang hangat dan hati yang berat. Di antara tawa dan salam perpisahan, seorang teman berujar,
“Semoga ini pertemuan yang tertunda.”
Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna—bahwa perpisahan bukan akhir, melainkan jeda menuju pertemuan yang lebih indah.
Nonton video Dokumenter Singkat PKL-SPN 2025 Gondang di sini


