PKL Covid-19 santri di bulan Ramadhan
Oleh Tim Mading Takhasus
Ia sudah tertinggal jauh di belakang, tak kurang dari setahun. Namun tidak pernah lekang dari ingatan. Ya, kisah-kisah tentang PKL Covid-19. Kisah tentang para santri kelas dua Takhasus yang berpindah sementara ke Pondok dua, merangkap tugas belajar sekaligus bertani. Semua kisah itu masih terkenang di ingatan, beserta seluruh rangkaian indah mozaik dan kusut masai benangnya.
Ya, kisah ini merupakan kisah santri kelas 2 Takhasus di tahun lalu, tahun 1441 H. Saat gelombang Covid-19 di Indonesia dinyatakan parah dibandingkan sebelumnya. Sampai-sampai shalat tarawih kami dilakukan secara sendiri-sendiri, tidak seperti biasanya. Sebuah kisah yang bagi kami sarah akan faidah. Semoga Allah menjadikannya sebagai pelajaran yang teraplikasikan dalam amalan ketaatan kepada ar-Rahman.
Ramadhan yang berbeda
Akhir-akhir Sya’ban 1441 H ketika itu, kami yang berada di Ma’had dua betul-betul telah siap menyongsong datangnya bulan Ramadhan. Rapat demi rapat diadakan guna menentukan jadwal imam, menyusun agenda kegiatan Ramadhan, merencanakan pelaksanaan shalat tarawih, buka bersama, dan lain sebagainya.
Namun, siapa sangka. Ba’da maghrib 29 Sya’ban 1441 H, tiba-tiba saja datang kabar dari asatidzah bahwa Ramadhan tahun itu shalat tarawih dilaksanakan secara sendiri-sendiri, tidak berjama’ah. Malam yang syahdu itupun berubah menjadi sendu, sebagian kami menunduk, atau melongo seolah-olah tidak percaya apa yang didengarnya. Sebagian lagi mengangkat kepalanya untuk mencegah air matanya agar tidak tumpah. Siapa yang tidak sedih kehilangan shalat taraweh berjama’ah.
Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya kami mulai terbiasa dengan suasana tersebut. Bahkan kami menganggapnya sebagai warna yang semakin memperindah kisah hidup kami. Walaupun tidak ada shalat taraweh berjama’ah, Ramadhan tahun itu tetaplah istimewa. Sekedar kami merasakan bulan Ramadhan di tempat yang berbeda dan dengan suasana yang berbeda, itu saja sudah cukup membuat begitu berkesan.
Santri shalat taraweh sendiri-sendiri
Saat itu adalah masa-masa yang menyenangkan. Sebagian kami yang tinggal di rumah panggung berdindingkan kayu dan alasnya juga dari kayu, beberapanya memilih shalat taraweh di teras belakang rumah. Angin malam berhembus lembut melalui sela-sela papan yang dialasi dengan sajadah. Jangkrik berderik merdu, dan jauh di sana entah di mana, corong toa masjid-masjid terus melantunkan bacaan tilawah sampai malam.
Makan sahur juga menyenangkan. Bagi yang shalat di akhir malam, badannya sudah segar tak seperti habis bangun tidur. Sehingga, di pagi buta seperti itu kami sudah bisa mengobrol hangat, bercanda tawa, dan bergurau.
Aktivitas di sore hari
Sore hari, setelah olahraga dan menyiram ladang, kami berangkat menuju tempat belajar, mendengarkan ta’lim yang disambung dengan buka bersama dan shalat maghrib berjama’ah. Menu berbuka selalu istimewa, karena dibuat oleh teman-teman kami sendiri yang ditunjuk untuk menyiapkan ifthar. Jika menunya hanya sekedar air putih dan kurma, itu saja sudah nikmat tak terkira, karena kami memakannya sambil memandang langit senja, yang sedikit demi sedikit berubah menjadi kelam.
Teringat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang berpuasa akan mendapat dua kesenangan, kesenangan ketika berbuka dan kesenangan ketika berjumpa Rabbnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Shalat Maghrib, suara imamnya terdengar lirih ditelan oleh alam terbuka yang sebentar lagi akan menjadi malam. Burung-burung sudah kembali ke sangkarnya. Digantikan kelelawar yang baru mencari makan. Maghrib seperti ini, banyak sekali kelelawar beterbangan di atas kepala kami. Kodok-kodok sawah berloncatan di depan dan samping kanan kiri kami. Jama’ah shalat yang sedang berdzikir jadi kisruh ketika satu dari kodok itu nyelonong masuk ke barisan shaf.
Menjelang malam
Sehabis shalat Maghrib, langit sudah gelap. Jika cuaca sedang cerah, kami dapat memandangi bintang gemintang bergelantungan di atas langit sambil berjalan kembali ke rumah tinggal. Namun seringnya, perut yang keroncongan membuat kami jalan bergegas, ingin segera membalaskan lapar seharian dengan menyantap menu istimewa Ramadhan.
Itu adalah cerita kami setahun lalu. Kisah lebih lengkapnya silahkan tunggu di majalah kami. Yang perlu diketahui bahwa di balik semua kenangan indah dan syahdu di atas, ketika itu kami kurang bisa memaksimalkan waktu Ramadhan untuk ibadah. Ya, karena suasana di ma’had dua tak seperti di pondok 1, ramai dengan nuansa ibadah.
Oleh karenanya, bagi kita yang mungkin kurang memaksimalkan ibadah di Ramadhan tahun lalu, mari kita tebus dengan menjadikan Ramadhan tahun ini lebih berpahala. Kita tidak tahu, barangkali ini adalah Ramadhan terakhir kita. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita, Amin.









