Salat, Tapi Kok Masih Bermaksiat?!

 

Topik Utama 01 Mading at-Tibyan Edisi 04 / Rabiuts Tsani 1443 H

 

Oleh Tim Mading Santri

 

Salat merupakan amalan agung di dalam Islam. Bahkan ia menjadi amalan pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. Salat merupakan tolok ukur penentu baik buruk amalan-amalan lainnya. Salat juga dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana firman Allah Taala di dalam surat al-Ankabut:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. al-Ankabut: 45)

Namun tak jarang kita mendapati; orang yang mengerjakan salat tetapi ia juga bermaksiat.

Bagaimana menyelaraskan fenomena ini dengan penjelasan ayat di atas? Apakah ayat di atas salah (dan ini tidak mungkin)? Ataukah justru salat yang ia kerjakan belum ditunaikan sebagaimana semestinya?

Imam Abul Aliyah rahimahullah pernah mengatakan:

إِنَّ الصَّلَاةَ فِيْهَا ثَلَاثُ حِصَالٍ فَكُلُّ صَلَاةٍ لَا يَكُوْنُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الخَلَالِ فَلَيْسَتْ بِصَلَاةٍ: الإِخْلَاصُ وَ الْخَشْيَةُ وَ ذِكْرُ اللهِ. فَالإِخْلَاصُ يَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوْفِ وَ الْخَشْيَةُ تَنْهَاهُ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ ذِكْرُ الْقُرْآنِ يَأْمُرُهُ وَ يَنْهَاهُ

“Sesungguhnya di dalam salat terdapat tiga hal. Jika tidak ada ketiganya salatnya tak teranggap. Tiga hal itu adalah ikhlas, rasa takut, dan zikir kepada Allah. Keikhlasan yang memerintahkan untuk berbuat ma’ruf, rasa takut yang mencegah dari perbuatan mungkar, begitu pula zikir dengan al-Quran itulah yang memerintah dan melarang sesuatu.” (Tafsir Ibnu Katsir al-‘Azhim 6/65)

 

Jadi, kunci permasalahannya bukan karena salat itu tidak manjur untuk mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, melainkan kondisi pelaku salat. Ia tidak menunaikan salat dengan benar. Seperti, tidak adanya keikhlasan dan tidak khusyuk di dalam mengerjakannya.

Allah Taala berfirman:

وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ

“Sesungguhnya salat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. al-Baqarah: 45)

Sehingga penting bagi kita semua untuk mengoreksi salat-salat yang kita kerjakan. Apakah sudah benar sehingga bisa memberi manfaat dan menjauhkan kita dari perbuatan keji lagi mungkar? Allahul musta’an.

 

Penulis: Bustanul Fikri Ramadan, Jambi

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.