🍜Di Antara Dua Jamuan, Bak Dibegal Kebaikan

Hari itu menjadi salah satu momen paling berkesan selama kegiatan PKL kami di afdeling Gondang. Tak hanya belajar, bekerja, dan beribadah, kami juga merasakan langsung hangatnya keramahan warga desa yang begitu tulus dan bersahabat.

Kejadian bermula ketika salah satu dari kami diundang oleh Bapak Fulan untuk makan siang di rumahnya. Namun, saat itu santri tersebut belum sempat makan karena masih menjalankan kegiatan. Ketika sampai di rumah, Bapak Fulan dengan baik hati memintanya untuk memanggil teman-temannya agar bisa makan bersama.

Namun di tengah perjalanan menuju posko untuk menjemput teman-temannya, santri tersebut justru dipanggil oleh Ibu Fulan—warga lain—yang juga menyambutnya dengan senyuman dan ajakan makan. Suasananya begitu hangat, sampai-sampai terasa seperti “dibegal dengan kebaikan.” Antara bingung dan terharu, dia terjebak dalam dilema lucu: belum sempat makan di rumah Bapak Fulan, sudah diajak makan oleh Ibu Fulan.

Kejadian sederhana itu mengajarkan kami bahwa kebaikan bisa datang dari mana saja, dan sering kali tak terduga. Warga Desa Gondang menunjukkan arti sebenarnya dari ukhuwah, kepedulian, dan saling menghormati, bahkan kepada tamu yang baru mereka kenal. Ini menjadi pelajaran berharga bagi kami tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan masyarakat dan selalu membalas kebaikan dengan hati yang tulus.

Kisah ini mengingatkan kami pada sebuah peristiwa di zaman Rasulullah ﷺ. Suatu hari datang seorang tamu kepada beliau dalam keadaan lapar. Rasulullah ﷺ meminta kepada istri-istrinya untuk menyiapkan makanan, namun mereka menjawab, “Kami tidak memiliki apa pun kecuali air.”

Lalu Rasulullah ﷺ berseru kepada para sahabat, “Siapa yang mau menjamu tamuku malam ini? Semoga Allah merahmatinya.”

Seorang sahabat dari kaum Anshar pun berdiri dan membawa tamu itu ke rumahnya. Ia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah.”

Sang istri menjawab, “Kita hanya punya makanan untuk anak-anak.” Maka sang suami berkata, “Tidurkan mereka, padamkan lampu, dan pura-puralah makan bersama tamu.”

Mereka pun menahan lapar malam itu demi memuliakan tamu. Keesokan harinya Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda,
“Allah tertawa terhadap perbuatan kalian berdua tadi malam.”
Lalu turunlah ayat yang memuji mereka:
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr: 9)
(HR. Bukhari)

Begitulah, kebaikan selalu memiliki cara untuk hidup dan menghangatkan hati—dalam bentuk yang sederhana namun penuh makna.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses