Cerita santri saat diterjang tsunami

 

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebuah propinsi yang penuh dengan keelokan. Gunung-gunung tersusun rapi. Sungai berair jernih turut menghiasi. Padang rumput indah nan elok juga banyak didapati. Jika negeri ini dilihat dari peta, maka ia sebagai wajah Negara Indonesia. Sebuah negeri yang paling terdekat dari Baitullah Ka’bah. Karenanya ia berjuluk “ Serambi Makkah”. Tatarannya ada yang rendah menjulai, adapula yang tinggi menjulang.

Kala itu, Aku tinggal di sebuah rumah panggung sederhana. Berbahan kayu,  Khas aceh tentunya. Di temani pohon ceri, yang berdiri tegak di samping rumah.  Tak lupa beberapa peliharaan [bebek, ayam] juga setia menemani. Kolam lele yang lumayan besar juga ada.

Tetanggaku adalah kerabat kerabatku sendiri. Satu rumah milik sepupuku, yang anaknya adalah teman bermainku, sebut saja namanya Amatullah (bukan nama asli). Satu rumah lagi milik kerabatku, yang anaknya juga merupakan teman bermainku, panggil saja dengan nama salamah (bukan panggilan sejatinya). Keseharian kami selalau bermain. Memanjat kandang ayam, bersepeda bersama, dll. Kami selalu senang, sering bercanda, main bersama, hingga hari kami berpisah untuk selamanya.

Tepatnya tanggal 26 desember 2004 adalah ujian bagi Kaum Mukminin, adzab bagi Kafirin dan Munafikin. Waktu itu hari Ahad, gempa berkekuatan 9,1 SR mengguncang NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) dan negeri negeri sekitar. Gempa dahsyat ini benar benar membuat manusia kocar kacir, mereka hilang kendali, serentak mereka lari berhamburan tak beraturan. Ada yang lari ke arah barat, timur, utara atau selatan.

Perumahan tak sedikit yang hancur. Perkantoran banyak yang roboh. Bahkan gedung tinggi berlaintaipun tak terluputkan dari keganasan gempa ini. Salah satu gedung yang roboh adalah sebuah swalayan “pante perak” namanya. Sesaat setelah keruntuhan swalayan ini, banyak masyarakat yang melihatnya. Termasuk yang ingin melihatnya adalah sepupuku (abinya amatullah) dan kerabatku (abinya salamah), sebelum berangkat, mereka mengajak abi untuk berangkat bersama. Namun, umi memiliki perasaan yang kurang enak “kayaknya hari ini gak enak” tutur umi. Alhamdulillah Abi saat itu tidak menerima ajakan mereka. Keduanyapun berangkat menaiki motor.

Aku, adik, dan kedua orang tuaku tetap di rumah. Adapun abinya Amatullah dan salamah pergi meninggalkan mereka, Ibu, dan Adik Adik mereka.  Tiba tiba tanpa disangka, beberapa menit kemudian..

Air laut meluap. Ia membanjiri kota. Kedatangannya tanpa diperkirakan. Kedatangannya sangat cepat. Ya, itulah yang di sebut Tsunami. Manusia dari berbagai penjuru lari sekuat tenaga. mereka panik luar biasa. Kejadian yang tak mereka sangka, benar benar mengejar mereka… Allahu akbar.

Lari lari dan lari, itulah yang mereka lakukan. Menyelamatkan diri. Cepat, ayo cepat sebelum terbalap air. Kalau sudah terbalap tentu mereka akan terlelap. Ada yang naik mobil, motor, atau sepasang sandal. Dalam kondisi demikian terlihat seorang polisi yang berusaha mengatur para pengendara yang berjalan tak beraturan. Lampu merah mereka terjang. Pak polisi belum tahu kalau mereka di kejar air bah. Setelah tahu, akhirnya beliau segera meng engkol motornya, dan ikut lari. Barakallahu fikum.

Lalu bagaimankah kondisiku, adik dan kedua orang tuaku? Bagaimana pula kedua temanku, ibu dan adik adik mereka?

Abi tatkala melihat air langsung bergegas mengenakan gamis. Umi juga buru buru memakai cadar. Segera, segera. Lari… Aku naik pundak Abi, Adik di digendong Abi, Umi digandeng Abi. Lariii itulah jurus kami.

Kala itu, tak jauh dari rumahku berdiri sebuah pohon  besar yang rindang. Ia kokoh, besar, lagi dipenuhi ranting ranting jumbo yang banyak. Karena air bah telah membasahi pakaian pakaian kami, lagi pula kami tak mungkin lagi berlari, maka Abipun memutuskan untuk memanjat pohon ini.

 

Selama diatas pohon kondisi benar benar menengangkan. Bagaimana tidak? Air tak seperti biasanya. Ia penuh dengan benda benda berbahaya. Kayu, paku, sebutlah semaumu. Air ini sangat kencang. Rumah rumah jebol dibuatnya, kendaraan apapun hanyut karenanya. perkantoran, rumah makan, sawah ladang pun tak terluput darinya. Bahkan manusia dari berbagai pelosok desa tak berkuasa melawannya. Masihkah kau sombong…

Tak ada bangunan yang tersisa melainkan Masjid Masjid, beberapa Rumah dan Pepohonan. Duhai betapa lemahnya manusia. Hanya dengan air, kau kocar kacir.

Banyak pemandangan kami saksikan dari atas pohon. Semuanya ngeri. Terlihat jelas manusia manusia yang terombang ambing air, mayoritasnya tak lagi bernyawa, meskipun juga ada yang berada diambang kematian. Diantara mereka ada yang masih berbusana, adapula yang telah tertangggal pakainnya. Benar benar pemandangan yang menyeramkan.

Air ketika itu hitam legam, baunya tak sedap. Kadang dia naik tinggi, kadang agak turun. Kami sangat khawatir jika kami tenggelam, atau pohon roboh terhantam air. Kedua orang tuaku sibuk dengan do’a, tasbih, tahmid, takbir, istighfar dsb.

Tiba tiba, lewat sebuah pemandangan aneh didepan mata kami. Yaitu, sebuah kasur berwarna merah yang hanyut membawa sesosok insan diatasnya. Aneh sekali, entah bagaimana prosesnya, tapi seperti itulah kejadiannya. Ini bukti maha kuasanya Allah. Orang itu sangat ketakutan, dia teriak teriak.  TOLONG..TOLONG..TOLONG.. Walhamdulillah dia dan kasurnya tersangkut di pohon kami. maka dengan sigap beberapa orang yang diatas pohon menyelamatkannya.

Mulanya, diatas pohon ini hanya kami ber empat. Lambat laun terkumpul diatasnya 12 orang. Mereka seluruhnya naik pohon ini dengan cara yang mengerikan. Yakni, semulanya mereka hanyut terbawa air, kemudian sangkut di atas pohon, dan berusaha naik menyelamatkan diri di pohon. Entah dari kampung mana mereka terombang ambing air. Subhanallah.. Mereka penuh dengan luka, diselimuti duka. Berpisah dengan keluarga tercinta. Tiada diantara mereka tak yang bercucuran air mata. Ini wajar hai saudaraku,  diawal pagi tadi, mereka lari menyelamatkan diri bersama ayah, ibu, atau kerabat. Namun, saat ini tak terlihat lagi seorang pun dari mereka. Sekarang tinggal mereka seorang diri, sebatang kara. bagaimana kalau itu terjadi pada kita?!. Ya Allah ampuni dosa dosa mereka, dan dosa keluarga mereka yang telah mendahului mereka. Diantara mereka,  ada seorang pemuda, ibu paruh baya, atau bapak yang berusia.

Aku, adik dan kedua orang tuaku diatas pohon mulai dari pukul 09-12 WIB. Waktu yang tidak singkat. sekira 3 jam kita duduk di ranting pohon. Pegal, capek, takut, ngeri, adalah perasaan yang menjadi satu. Abi sedari tadi, sudah ingin memutuskan untuk turun. Tapi, karena kondisi air yang pasang surut, niatpun diurungkan.

Diawal pagi tadi, rumahku benar benar terlihat jelas dari pohon. Sekarang rumah panggung itu tidak terlihat lagi. Bertahun tahun kami hidup padanya, kami berlindung didalamnya dari sengatan matahari, derasnya air hujan. sekarang Kemanakah rimbanya? Hancur, Lebur, musnah? Simaklah di akhir kisah.

Setelah beberapa saat, Abi pun memutuskan untuk turun dari pohon. Kami pun turun. Walaupun air belum surut. Ia belum kembali ke laut. Namun, Abi tetap optimis untuk turun. Meskipun air saat itu masih setinggi pria dewasa. Bismillah, kita turun, ngeri, panik dan takut adalah perasaan yang berbalut menjadi satu. Umi kala itu tak lagi mengenakan terompah,  kedua kakinnya hanya berbalut kaos kaki hitam yang tipis. Formasi awal dibentuk, Aku naik pundak Abi, Adik digendong Abi, Umi digandeng Abi.

Kami turun dari pohon, tanpa melihat tanah, kami tak tahu apa yang kami pijak. Manusia tak berdaya, kayu berpaku, kendaraan yang tak berbentuk, atau apa?? Perjalanan misteri ini memang berbahaya. Sampai sampai kedua orang tuaku menginjak beberapa mayat yang mati dibawah air. kami terus berusaha berjalan setapak demi setapak, melawan air yang bau, dan hitam.

Akhirnya, atas izin Allah, kami berhasi di perjalanan penuh rintangan dan aral ini. kami tiba ditujuan, rumah pak Abdulah (bukan nama sebenarnya) salah seorang kerabat kami. Kala itu pak Abdullah dan sebagian keluarganya sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci. kami tiba di rumah beliau dengan tanpa luka. Umi yang tak bersandal juga tak terluka sedikitpun. Walhamdulillah. Walfadhlu minallah.

Rumah beliau adalah rumah yang besar, berlantai dua. pagar besi penuh jeruji mengitarinya. Dulu, kami sering bermain didalamnya, pagi, siang, atau malam. Namun, saat ini rumah ini di penuhi dengan kengerian. Yang membuat bulu kuduk tegak berdiri. Banyak pemandangan horor didalamnya atau di sekitarnya.

Kala itu, di pagar rumah terlihat jelas sesosok insan yang tertancap di pagar besi. Badannya tertancap jeruji, ia tak bernyawa lagi, tubuhnya berwarna hitam pekat. Ya, ia telah merengang nyawa di tempat itu, umurnya berakhir di sebuah tempat yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Di dalam rumah pemandangan horor pun tak kalah banyak. Terdapat beberapa orang yang mati tak berdaya padanya, mereka tergelempang penuh kengerian. Rumah ini juga penuh dengan sampah, rerumputan, dsb. Anehnya, ada sebuah perahu kecil berlabuh didalamnya. Entah dari mana, padahal laut lumayan jauh dari rumah ini.

Kami ber empat terus berjalanan, kami kuatkan hati, mantapkan jiwa. Kemudian kami menuju lantai dua. Alhamdulillah, lantai dua tidak terjamah air sedikitpun. Abi,  Umi segera mempersiapkan diri untuk shalat dhuhur. Shalat dhuhur dilaksanakan.

Selepas shalat, kami benar benar merasakan suasana hening, Sepi, sunyi. Tiada terdengar suara merdu para Muadzin  yang saling bersahutan dari berbagai masjid. Tak terdengar pula suara para penjual cilok yang memencet bel andalannya. Hanya angin sepoi sepoi penuh kehangatan yang sesekali menyapa.

Ketika melongok dari jendela, kami melihat berbagai pemandangan. Pemandangan sejuk?? Bukan kawan, yang ada, sebagian perumahan yang hancur. Rerumputan hijau yang musnah. Mobil yang terjungkal. Manusia yang terbaring dimana mana. Itu lah pemandangan ngeri menghiasi siang itu.

Tiba tiba kami melihat pemandangan aneh. Sebuah penampakan nyata, tak ada khayal dan dusta. yaitu keberadaan dua orang pria berjubah yang terlihat sibuk mencari cari jenazah di antara puluhan jenazah yang terbaring kaku.  Air mata mereka telah terkuras, mata mereka berkaca kaca. Seoalah mereka merasa berdosa meninggalkan sanak keluarga di awal pagi tadi. Siapakahkeduanya? Ternyata  dia adalah sepupuku (abinya Amatulah) dan (abinya salamah). Di awal pagi tadi mereka berangkat ke kota guna melihat gedung roboh. Sesaat kemudian, air bah datang, Mereka pun lari. Atap atap rumah mereka lompati satu persatu. Hingga mereka berdua selamat.

Selepas shalat Ashar, Abi memutuskan untuk turun dari rumah ini. Kamipun turun. Umi masih tak bersandal. Kamipun berjalan menusuri jalan yang penuh mayat, kayu, paku, kepingan kaca, dsb. Di tengah perjalanan kami melihat seorang bapak yang terbaring kaku dengan perut kembung. Ia telah wafat. Kala itu ia menggunakan seragam jogging. berupa sepatu, dan baju bekerah, ia terlentang di depan sebuah rumah yang telah hilang penghuninya. Serem banget.

Kami terus berjalan, hingga sampai ke sebuah rumah bertingkat. Kedua orang tuaku memutuskan untuk menginap  di rumah tersebut. Karena, rumah itu lumayan ramai. Banyak orang yang ingin mencari mayat keluarganya yang menginap di rumah ini. Malam itu, nyamuk banyak sekali. Perut kosong, kami lapar. Tiada makanan yang bisa di makan. Adapun orang orang pencari mayat itu, mereka menemukan beberapa ekor ikan yang hanyut bersama tsunami. Mereka memungutya di sisa air tsunami. Lalu di bakar, dan disantap.

Kemudian bagaimanakah kabar sepupu dan kerabatku yang tengah mencari keluarga mereka yang hilang??

Mereka berdua berangkat menuju rumah mereka, jalan raya ingin mereka telusuri, Namun, ia tak seperti pagi tadi.  Seolah ia hilang tak berbekas. Dengan susah payah, penuh rintangan dan usaha mereka pun sampai ke rumah mereka. Kesedihan berbalut kepedihan kala melihat keluarga mereka entah kemana.. jasad jasad tak bernyawa itulah yang mereka dapatkan. Tanpa berpikir panjang, mayat mayat tersebut mereka kros chek   satu persatu. “Adakah istriku diantara mayat mayat ini, atau putri kesayanganku”. Gumam hati penuh pilu itu. kala kesedihan yang sangat mendalam, mereka tak lupa untuk bertaawun. Di sekeliling mayat saat itu banyak didapati jajanan ringan, semisal beng beng, top, pilus dsb. Karena kelaparan yang sangat, Abi meminta kepada mereka untuk mengambilkan beberapa jajanan tersebut. Dengan sigap, mereka mengambil dua kantong kresek merah, lalu dikumpulkan di dalamnya jajanan tersebut. setelah itu, dilempar ke lantai dua. Abi pun menangkap dua keresek tersebut. Jajanan ringan menjadi menu makan siang. Alhamdulillah. Lalu, apakah mereka berdua berhasil mendapatkan keluarga mereka?

Amatullah, Adik dan Ibunya tatkala tsunami datang, mereka lari sekuat tenaga.. lari tanpa banyak pikir panjang. Mereka terus mengerahkan kekuatan hingga mencapai batas akhir kemampuan. Manusia ada batas kemampuannya, ternyata kencangnya lari mereka tak bisa membuat mereka semakin jauh dari air bah. Bahkan, semakin dekat dan dekat dengan mereka. Air tsunamipun menggulung jasad jasad mereka, tak ubahnya mereka bak pasir yang di gulung ombak. Air bah membuat mereka hanyut. Mereka tak kuasa melawannya, atau menyelamatkan diri darinya. Mereka terus berada dalam gulungan air Hingga Amatullah tersangkut di bawah kapal besar, ibunya juga tersangkut di sebuah atap rumah. Alhamdulillah, dengan itu, mereka berhasil diselamatkan oleh beberapa orang dengan badan yang penuh luka. sayatan besi tajam telah menggores gores tubuh mereka. Terpaan sampah dan hancuran bangunan telah membuat jasad mereka melemah. Mereka kemudian diungsikan di    masjid kampung keramat namanya. Di masjid tersebut mereka berlindung. Dimasjid itulah Amatullah dan ibunya yang hampir wafat bertemu kembali dengan sang nenek dan adik tercinta.   Termasuk dari keajaiban Tsunami Aceh yang tak boleh dilupakan adalah kokoh dan tidak hancurnya masjid masjid. Sedangkan bangunan bangunan di sisi masjid pasti hancur lebur. Subhanallah.

Lalu,bagaimana kabar salamah, ibu dan adik adiknya? Qadarullah  mereka semua di panggil oleh Allah pada kesempatan ini. Bagaimana ceritanya? Setelah keberangkatan Ayah mereka ke kota, tsunami datang. Ibu Salamah, Salamah bersama sebagian  Adiknya lari menyelamatkan diri dari tsunami. Pada kesempatan ini mereka benar benar mecurahkan upaya guna menyelamatkan jiwa. Mereka terus lari, lari dan lari , tapi, Takdir Allah telah mendahului mereka, tujuan mereka tak berhasil, usaha mereka nihil, nasi sudah menjadi bubur. pupuslah harapan mereka. Sekarang tsunami telah menggulung jasad mereka. Air bah penuh bawaan berat telah menenggelamkan mereka. Mereka semua wafat tergulung arus ombak yang sangat dahsyat. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Mereka tak bisa diselamatkan.  Semoga Allah mengampuni temanku, ibu dan adik adiknya. Kau telah mendahuluiku salamah. Dirimu telah menempuh jalan yang berbeda denganku salamah. Semoga jannah adalah tempat kembalimu. Amin.. yang lebih membuat sedih adalah hilangnya jasad ibu dan adik adiknya. Adapun salamah masih ditemukan. Kala itu yang menemukan jasadnya adalah seorang ikhwan, dengan segera beliau melaporkannya kepada ayah salamah. walaupun Jasad salamah tak lagi bebentuk. Perutnya juga kembung. Namun, ia masih bisa dikuburkan dengan baik. Semoga Allah mengampuninya.

Adapun rumahku, ketika air datang ia tetap kokoh. Terjangan air tak menghancurkannnya. Hanya saja ia hanyut terbawa air. Hingga ketika air kembali ke laut, ia berlabuh disebuah lapangan luas. Seakan ada orang yang membangun rumah di tengah lapangan itu. Padahal itu adalah rumahku.. Masya Allah.

Abi, tatkala Tsunami telah berlalu beberapa hari ingin melihat rumah kami, beliau heran kok rumahnya gak ada di tempat asalnya. Yang lebih membuat heran lagi adalah tatkala tiada runtuhan bangunan sedikitpun di tanah tempat rumah kami berdiri. Setelah upaya demi upaya dilakukan, ba’dallah beliau mendapati rumahnya berlabuh di lapangan luas. Rumah itu masih berdiri, ia kokoh tak tertandingi, dikala teman temannya hancur tak berarti, ia masih saja kuat menapakkan kaki.

Abi masuk ke dalam rumah. keajaiban lagi dilihatnya, rumah ini tenggelam setengah badan tatkala ia hanyut. Di rumah ini juga Abi mengambil kitab kitab ilmu yang telah berubah warna menjadi hitam dan berlumpur. Namun, hingga tulisan ini ditulis beberapa kitab kitab tersebut masih bisa dibaca dan diambil faidahnya. Diantaranya adalah kitab Tafsir As Si’di da beberapa kitab lainnya.

Adapun jasad jasad korban tsunami yang tidak diambil oleh keluarganya,  di pungut, lalu dimasukkan ke truk dam. Kuburan seluas -+ 400 m persegi telah disiapkan. Kemudian jasad jasad yang telah terputus putus itu di kuburkan di kuburan besar itu. Tak ada liang lahad. Mereka dikuburkan bersama. Kuburan berukuran jumbo itu belapis lapis.  Kalau kuburan dekat rumah baru kami ada 6 lapis. Kuburan ini dinamakan “kuburan Massal.”

Saudaraku, mungkin ini saja kisah dariku. Mudah mudahan bermanfaat. Nasihatku,  Tetaplah bersemangat dalam menuntut ilmu. Sebelum Allah mencabut ni’matNya darimu. Ingat! Allah akan mencabut nikmat ketika tidak disyukuri. Ingat! Allah akan mencabut ni’mat tanpa anda sadari. Teruslah berjuang, hingga ajal datang. Salam semangat dari temanmu seperjuangan..sekian. semoga bermanfaat.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.