Peringatan untuk kita

 

Oleh Muhammad Iffi 3A Takhasus

 

Sudah setahun Covid melanda dunia. Namun, sampai kini grafik kasus korban terinfeksi masih saja belum menunjukkan adanya penurunan. Korban meninggal terus bertambah (walaupun pasien yang sembuh juga terhitung banyak). Entah sudah berapa banyak anak yang menjadi yatim, wanita yang menjadi janda, dan orang tua yang kehilangan buah hatinya.

 

Hal ini semakin diperparah dengan kondisi masyarakat yang masih abai dengan protokol kesehatan. Tidak jarang ditemukan masyarakat yang tidak mau menggunakan masker, atau melanggar protokol 3M. Akibatnya, pelonjakan kasus menjadi sangat tinggi. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka.

 

Kurang pedulinya menerapkan 3M

 

Ya, hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Pemerintah melalui Juru Bicaranya untuk Penanganan Covid-19 dalam kesempatan Konferensi Pers, Kamis 3 Desember 2020 di Media Center Satgas Covid-19 Graha BNPB, pukul 16.30 WIB:

“Berdasarkan data website resmi bersatu lawan covid-19 untuk perubahan perilaku, bersatulawancovid.id yang nantinya dapat diakses oleh publik, bahwa pemantauan kedisiplinan protokol kesehatan yang dilakukan sejak tanggal 18 November 2020 sempat mengalami fluktuasi di sekitar minggu ke-4 bulan November.

Kemudian, sangat disayangkan bahwa trennya terus memperlihatkan penurunan terkait dengan kepatuhan individu dalam memakai masker serta menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Hal ini bertepatan dengan periode libur panjang tanggal 28 Oktober sampai dengan 1 November 2020. Tren penurunan tersebut terus berlanjut sampai pemantauan pada tanggal 27 November 2020, di mana presentase kepatuhan untuk memakai masker ialah 59,32%, sedangkan untuk menjaga jarak ialah 43,46%.”

 

Sebab abainya masyarakat

 

Abainya masyarakat mungkin bisa terjadi disebabkan beberapa faktor. Diantaranya adalah keberadaan orang-orang yang meyakini bahwa Covid merupakan suasana yang direkayasa dan tidak nyata. Mereka percaya bahwa Covid hanyalah konspirasi yang dilakukan oleh kalangan tertentu.

 

Berangkat dari keyakinan di atas, wajar saja bila mereka abai dengan prokes yang telah dirumuskan oleh pemerintah. Baginya Covid itu tidak ada, akhirnya ia berani keluar rumah tanpa menggunakan masker, dan melanggar protokol kesehatan lainnya. Yang lebih menyedihkan, jika hal tersebut terjadi di kalangan salafiyyin.

 

Sebagaimana penuturan seorang teman yang sempat pulang ke rumah, bahwa kondisi di luar sangat mengerikan sekali. Ia pernah dicibir oleh mantan teman sepondoknya, “Buat apa pakai masker? Buat apa balik ke pondok lagi?!”

 

Faktor lainnya yang menyebabkan peningkatan kasus adalah liburan panjang di rumah. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh pemerintah pada kesempatan yang sama, “Dapat kita simpulkan bahwa liburan panjang merupakan momentum pemicu utama penurunan kepatuhan disiplin protokol kesehatan, dan kepatuhan tersebut semakin menurun.”

 

Juga ditunjukkan oleh pernyataan pemerintah sebelumnya bahwa penurunan kepatuhan individu dalam memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan, terjadi bertepatan dengan liburan panjang tanggal 28 Oktober sampai 1 November 2020, dan berlanjut sampai 27 November 2020.

 

Syukur dan doa

 

Melihat fakta di atas, tentu kita sangat bersyukur dengan keberadaan kita di pondok, yang merupakan tempat paling aman InsyaAllah. Semoga Allah melindungi kita dan mahad kita dari virus berbahaya ini. Amin

 

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Nu'man Qowi berkata:

    Yaa Allah selamatkanlah kita semua dari wabah ini dan semoga Allah segera mengangkat wabah ini dari negri ini…AAMIIN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.