Santri di pagi hari

 

Oleh Abu Abdillah Anton Purbalingga

 

Hari ini merupakan pekan pertama dimulainya KBM semester genap tahun ajaran 1441 – 1442 H. Setelah shalat Shubuh, suasana pondok mulai tercium aroma aktivitas para santri. Mereka tetap antusias menjalankan ibadah, belajar, dan ta’awun. Sebagian mereka baru selesai ta’awun jaga malam, setelah semalaman mata mereka menahan kantuk untuk menjaga pondok.

 

Sebagian lainnya mulai mempersiapkan pembuatan minuman suplement santri, dari membersihkan tempat produksi suplement sampai mempersiapkan bahan berupa secang susu. Adapun dapur santri, sebelum shubuh mereka sudah mulai mempersiapkan masak nasi dan lainnya. Tak kalah para santri yang tergabung dalam divisi kebersihan pondok yang bertugas mengangkut sampah ke gerobaknya, di awal pagi mereka sudah berangkat dengan gerobak setianya mengelilingi pondok.

 

Adapun adik kami dari kelas tahfidz, masih ada jadwal muraja’ah al-Qur’an setiap ba’da shubuh. Begitu pula sebagian santri takmili dan takhasus yang belum ada jadwal ta’awun, mereka memuraja’ah al-Qur’an dan durus. Suara mereka ramai dan memberikan semangat bagi kami. Dan masih banyak lagi aktivitas santri di awal pagi, belum di siang, ataupun di sore harinya.

 

Alhamdulillah keadaan kami lebih terjaga dari sisi iman dan kesehatan badan kami ketika bersabar untuk tetap di pondok, terkhusus di masa pandemi. Meski hampir dua tahun belum pulang, para santri masih melakukan aktivitasnya di pondok secara normal. Keadaan ini tentu lebih baik dibandingkan keadaan di luar sana.

 

Sebagian santri yang pulang karena ada keperluan di rumahnya, mereka berkata: “Di rumah tidak bisa kemana-mana. Seringnya di rumah, tidak bisa mengikuti majelis ilmu dan tidak bisa berolahraga. Kalau sudah selesai urusan kami, insyaAllah kami akan segera kembali ke pondok.”

 

Ya…majelis ilmu merupakan suplement iman yang apabila tidak diberi asupan ilmu, tentu kekuatan iman akan menurun. Inilah keyakinan ahlus sunnah bahwa iman bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.

 

 

Oleh karena ini, sebagian kami merasa terpanggil untuk membantu teman-teman yang pulang dan membantu proses kembali ke pondok. Apalagi di masa pandemi, proses para santri yang kembali ke pondok berbeda dengan selain pandemi. Di masa pandemi, para santri yang ingin kembali ke pondok harus konfirmasi atau menghubungi terlebih dahulu ke pihak pengurus. Tujuannya agar mereka mengetahui protokol saat masuk pesantren.

 

Dalam hal ini pondok menerapkan protokol demi menjaga kesehatan santri di pondok. Dan ini semua dalam rangka taat kepada imbauan pemerintah.

 

Mudah-mudahan Allah mengokohkan kami, memberikan kesabaran, dan kemudahan bagi kami. Semoga apa yang kami lakukan dari ta’awun di pondok dan membantu saudara-saudara kami dalam rangka mengamalkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” (HR. ath-Thabarani dan ad-Daruquthni)

 

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

 

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai sesuatu untuk  saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu untuk dirinya sendiri dari kebaikan.” (HR. al-Bukhari no. 13, Muslim no. 45)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.