Memahami makna nama Allah “ar-Rahman”

 

Oleh Hamzah Bali 

 

Pentingnya mempelajari nama dan sifat Allah Ta’ala

Keimanan adalah hal yang sangat penting bagi setiap hamba. Karenanya akan terbedakan antara penduduk neraka dengan penduduk surga. Yang terpenting dari itu semua adalah Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu merupakan rukun pertama dari enam rukun iman yang wajib untuk diimani seluruhnya.

Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Di dalam Keimanan kepada Allah Ta’ala pun terdapat empat rukun, yaitu:

  1. Beriman kepada wujud Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Beriman kepada rububiyah-Nya (Allah Ta’ala lah yang menciptakan dan mengatur alam semesta).
  3. Beriman kepada uluhiyah-Nya (Allah Ta’ala lah yang berhak untuk diibadahi).
  4. Beriman kepada nama-nama serta sifat-sifat-Nya.

Meraih kesempurnaan ibadah

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya alQawaidul mutsla fi sifat Ilahi Ta’ala wa asma ihil husna:

“Maka sesungguhnya keimanan kepada nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya merupakan salah satu rukun keimanan kepada Allah Ta’ala. Rukun-rukun keimanan kepada Allah adalah:

  • Beriman kepada wujud Allah ‘Azza wa Jalla,
  • Beriman kepada rububiyah-Nya,
  • Beriman kepada uluhiyah-Nya, dan
  • Beriman kepada nama-nama serta sifat-sifat-Nya.

Dan tidak mungkin bagi seseorang untuk bisa beribadah kepada Allah dengan bentuk yang sempurna, kecuali sampai ia memiliki ilmu tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Demikian agar ia bisa beribadah kepada Allah Ta’ala di atas al-bashirah (ilmu) dan keyakinan.”

Nama Allah Ta’ala: “Ar-Rahman”

Di antara nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah “ArRahman”.

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin di dalam kitabnya alQawaidul mutsla: “ar-Rahman adalah salah satu nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengandung sifat rahmat yang sempurna. Yang mana Rasulullah shallallhu’alaihi wa sallam telah berkata tentang nya:

لله أرحم بعباده من هذه بولدها

“Sungguh Allah Ta’ala lebih menyayangi hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Yaitu seorang ibu yang mendapati anaknya berada pada suatu tahanan, kemudian ia mengambilnya dan mendekap serta menyusuinya.”

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.