Perjalanan mengenal salafy

 

 

Oleh Muh. Syahril Banyuwangi Tahfizh

 

Hidayah yang tak diduga-duga

 

Kumulai kisahku pada saat aku masuk kelas enam SD. Kuperkenalkan diriku terlebih dahulu, namaku Muhammad Syahril. Aku lahir bukan di negeri yang engkau pijak sekarang ini. Aku lahir di negeri Malaysia.

 

Sedikit mulai mengenal

Sekarang aku tinggal di ujung timur pulau jawa, tepatnya di kota Banyuwangi. Aku adalah seorang atlet beladiri karate. Aku belajar beladiri ini sejak kelas dua SD. Aku anak kedua dari tiga bersaudara, aku anak laki-laki satu-satunya.

Jika kalian tahu aku, pasti kalian agak heran. Walau aku seorang atlet, tapi aku berbeda dengan atlet yang pernah kalian lihat. Aku itu culun, kecil, kurus, tidak keker. Bisa dibilang tidak pantes jadi atlet.

 

Melanjutkan kisah kembali

Dari kelas dua sampai enam, aku aktif dalam beladiri. Lima pertandingan aku ikuti. Kabupaten, provinsi hingga nasional sudah kurasakan lawan-lawannya.

Hingga…saat aku kelas enam SD, aku berpindah haluan ke pramuka. Aku sibuk dengan perkemahan-perkemahan yang diselenggarakan dari berbagai kabupaten. Hingga akhirnya, aku sering dimarahi pelatih, karena sibuk dengan berbagai kegiatan pramuka. “Kalau kamu mau jadi atlet, tidak perlu ikut pramuka. Ngerti!!!.” Pelatih memarahiku.

Sampai akhirnya, aku bertemu dengan teman karate yang berpenampilan religius, celana cingkrang, jubahan, abinya melihara jenggot, uminya bercadar. Pokoknya banyak perbedaan. Awalnya, umiku mengira mereka adalah khawarij. Ketika berkenalan, umiku diajak ta’lim di RUMBEL (RUMah BELajar) yang ada di kotaku. Sampai akhirnya Abi dan Umi menjadi orang salafy. Walhamdulillah.

Aku dan kakakku masih sekolah umum ketika itu. Adikku belum lahir. Abi dan umi berkeinginan agar aku mondok setelah lulus kelas dua SMP. Saat itu, aku didaftarkan di SMP lewat jalur prestasi, aku mendapat beasiswa.

 

Awal ngaji salafi

Awal ikut ta’lim, aku tidak begitu suka dengan dakwah ini. Karena ada larangan musik, berikhtilat. Saat itu, aku adalah seorang yang terlena dengan popularitas, sosmed, dan lainnya. Ini semua menjadi saranku mencari kepopularitasan.

Tak jarang, orang-orang memanggilku “fulan…fulan…” atau “ fulan, tau nggak, akukan folowersmu itu.” Padahal aku tidak kenal mereka. Allahul musta’an.

Saat itu aku menjadi ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Sibuk dengan undangan-undangan sekolah lain. Hingga umi memutuskan aku berhenti mengikuti karate. Ya, aku bisa saja.

Saat itu, aku sering berikhtilat dengan perempuan. Tapi alhamdulillah, aku sudah sedikit mengetahui tidak bolehnya terlalu dekat sama perempuan. Hingga akhirnya, aku keluar dari sekolah.Tapi, keinginan Abi dan Umi untuk menjadikanku anak sholeh.

Walau berat meninggalkan dunia SOSMED (SOSial MEDia), tapi aku teringat dengan firman Allah yang artinya,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan serta saling berbangga di antara kalian.” [QS. Al-Hadid: 20]

 

Ibrah

Kehidupan dunia hanyalah permainan. Terkadang hidayah datang tidak diduga-duga, dlam keadaan kita berada dalam kemaksiatan.

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.